Hendaklah kamu semua mengusahakan ilmu pengetahuan itu sebelum dilenyapkan. Lenyapnya ilmu pengetahuan ialah dengan matinya orang-orang yang memberikan atau mengajarkannya. Seorang itu tidaklah dilahirkan langsung pandai, jadi ilmu pengetahuan itu pastilah harus dengan belajar. ( Ibnu Mas’ud r.a )

PHOTO TERBARU

PHOTO TERBARU
Studi Industri 2015

Selasa, 13 Oktober 2009

Lima Kiat Menghadapi Sesuatu Yang Tidak Diduga


Oleh: Aa Gym

Lima Kiat Menghadapi Sesuatu Yang Tidak Diduga
1. Jangan Panik
2. Jangan Emosional
3. Jangan Tergesa-gesa
4. Jangan Mendramatisir Masalah
5. Jangan Pernah Putus Asa


1. Jangan Panik
Pertama: jangan Panik, mengapa ? Karena orang yang panik berpikirnya sangat pendek, padahal masalah yang dihadapi selalu membutuhkan ketenangan, kejernihan berfikir, kemampuan menghimpun input dengan baik, membaca peta masalah, orang panik tidak punya waktu untuk melakukan hal ini.

Kepanikan memang sumber masalah baru dibandingkan masalah yang sebenarnya.

Jika terjadi masalah yang tidak diinginkan, tenang, tetap tenang sambil kita baca situasi, kendalikan diri, jangan bertindak, jangan berkata, jangan merespone kecuali sudah bisa mengendalikan diri. Kunci pertama ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jangan panik dan kita sikapi masalah dengan ketenangan.

Bertekadlah kita menjadi orang yang benar-benar bisa mengendalikan diri. Bagaimana supaya tidak panik ? Caranya adalah tarik nafas, tahan, buang perlahan-lahan, itu sudah bagian daripada membuat diri kita lebih tenang, katakanlah Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, kami semua milik Allah dan kembali kepada Allah. Tidak mungkin menimpa kami satu musibah kecuali dengan ijin Allah, tenang tarik napas, rilekkan badan, ingat kepada Allah yang menciptakan semua kejadian dan buatlah agar orang di sekitar kita jangan panik, InsyaAllah sekitar kita akan tenang dan ketenangan sekitar kita membawa pula kemampuan bagi kita untuk berfikir lebih jernih dan bertindak lebih tepat.

Saudaraku, marilah kita bertekad menjadi pribadi yang tenang, kalem terkendali sehingga setiap masalah kita bisa sikapi dengan sikap terbaik kita.

2. Jangan Emosional

Jangan emosional. Mengapa ? Karena sikap emosional kepentingannya hanya memuaskan nafsu. Sedangkan masalah tidak bisa diselesaikan dengan memuaskan nafsu.

Nafsu itu pertimbangannya tidak dengan akal tapi hanya mengandalkan perasaan. Sedangkan untuk menyelesaikan masalah dengan baik, kita butuh kejernihan berfikir disamping kebeningan hati.

Orang yang pemarah akalnya pendek, kata-katanya menyakitkan, matanya melotot wajahnya membara, detak jantung nya tidak terkendali. Bahkan perilakunya bisa memukul, menendang dan membunuh. Betapa bahayanya orang yang emosional.
Marah tidak menyelesaikan masalah, marah seperti menyiram bensin kepada api hanya membakar masalah.

Pemarah tidak pernah disukai, pemarah dijauhi, pemarah juga dibenci. Untuk mengendalikan emosi caranya adalah, pertama menurut Nabi jangan bereaksi kalau ada sesuatu yang mengecewakan. Yang kedua pindah posisi, karena pindah posisi, pindah suasana, pindah input, lebih membuat kita terkendali. InsyaAllah ketika kita tenang, solusi akan lebih mudah kita temukan.

3. Jangan Tergesa-Gesa

Ada peribahasa pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Orang yang tergesa-gesa maka dia harus siap memikul penyesalan. Karena tergesa-gesa artinya bukan masalah waktu. Tergesa-gesa itu karena kurang lengkap input dalam menyelesaikan masalah.

Jadi tergesa-gesa tidak diukur oleh waktu. Tapi diukur oleh sudah lengkapkah input yang dia miliki, sudah pahamkah dengan situasi yang dia hadapi.

Nah orang tergesa-gesa dia tidak punya kemampuan, kesabaran untuk melengkapi data, melengkapi fakta. Sehingga keputusannya, kata-katanya, sikapnya, tindak-tanduknya bukan berdasarkan data, fakta atau input yang benar, akurat dan lengkap tapi semata-mata karena terdorong nafsu ingin berbuat sesuatu.

Percayalah tergesa-gesa ujungnya penyesalan, tergesar-gesa hanya mendatangkan penyesalan.

Jadi jika ada masalah jangan tergesa-gesa mengomentari, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Tapi fokuskan pikiran, saya harus mencari input, mencari data yang BAL. Yaitu Benar-Akurat-Lengkap. Jangan mengambil sikap apapun sebelum kita menghimpun data.

Ketrampilan kita mencermati data yang betul-betul kita petakan, kita bisa melakukan tindakan yang cermat. Tanpa data, tanpa fakta, tanpa bukti, itulah yang dinamakan tergesa-gesa. Siapapun yang bertindak tergesa-gesa, hampir dapat dipastikan tindakannya tidak tepat dan berbuah penyesalan.

4. Jangan Mendramatisir Masalah

Nabi Muhammad SAW adalah seorang pribadi yang sangat kalem, tenang jernih, walaupun masalah bertubi-tubi datang dari kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah. Kenapa kalem ? karena kalem itulah yang dapat membuat kita melakukan tindakan dengan tepat.

Kalau kita tidak hati-hati saudaraku, banyak diantara kita yang tidak terampil mengendalikan pikirannya sehingga masalah sejengkal, jadi sedepa, jadi sehasta dan akibatnya menimbun dia. Kita harus mulai berfikir jernih dan proporsional. Yang kecil biarlah kecil, yang sedang biarlah sedang, yang besar biarlah besar. Jangan sampai yang kecil di dramatisir menjadi besar dan akhirnya menyiksa diri kita sendiri.

Sekali lagi dalam situasi apapun jangan terpancing untuk mendramatisir masalah, jangan mempersulit sesuatu yang simpel, jangan memperbesar sesuatu yang kecil, jangan membuat mencekam sesuatu yang sederhana, jangan membuat begitu gawat sesuatu yang sebetulnya ringan-ringan saja. Mudahkan urusan, jangan dipersulit, gembirakan.. jangan dibuat menakutkan, mencekam dan menegangkan.

Adalah manusiawi jikalau kita tercekam oleh rasa cemas, rasa takut, takut kerugian harta, takut kehilangan benda, takut hilangnya popularitas, takut hilang nya jabatan, kedudukan, ini hal yang sangat manusiawi. Tetapi kita sengsara dicekam oleh takut, kita sendiri yang rugi. Mau tidak mau masalah sudah ada dan harus kita hadapi, dan kita harus terampil mengukur masalah dengan proporsional. Tetap kendalikan diri, jangan panik, jangan emosional, jangan tergesa-gesa mengambil sikap, dan jangan terlena sengsara mendramatisir masalah.

Saudaraku.. Mari kita nikmati hidup dengan terampil mengendalikan pikiran dan hati kita

5. Jangan Pernah Putus Asa

Selain putus asa terlarang, juga sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Kita harus tau bahwa setiap masalah yang menimpa kita itu mutlak sudah diukur oleh Yang Menciptakan segala-galanya. Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.

Tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah, tidak ada alasan bagi kita untuk lari, tidak ada alasan bagi kita untuk berputus asa. Mengapa ? Karena kita yakin sesungguhnya pertolongan tidak hanya mengandalkan akal, tubuh, kawan, ataupun kekuatan kita. Kita tidak berputus asa karena kita yakin pertolongan datang dari Allah Yang Maha Kuasa.

Mengapa kita berputus asa ? Kita berputus asa sebab kita mengandalkan kemampuan kita. Padahal kita amat lemah tiada daya. Kita berputus asa karena kita bersandar kepada teman, kepada relasi, kepada tabungan yang semua itu justru jika tidak dengan ijin Allah, tidak akan membawa manfaat.

Oleh karena itulah jika kita ingin tidak berputus asa, "Dan orang yang hatinya bulat bertawakal sepenuh hati kepada Allah, dialah yang akan di cukupi". Salah satunya adalah "Pertolongan dari tempat yang tidak di duga-duga". Jika Allah menghendaki maka terjadilah.

Susah-susah kita berputus asa, lebih baik dekati Allah dengan sesungguhnya, sambil kita sempurnakan ikhtiar kita.

Jumat, 09 Oktober 2009

Gempa Bumi 7,6 SR di Ranah Minang


Telah terjadi gempa bumi 7,6 SR di Ranah Minang hari Rabu tanggal 30 September 2009 pukul 17.16 WIB. Korban meninggal diperkirakan lebih dari 1000 orang, puluhan ribu luka berat dan ringan, ribuan bangunan roboh, tanah lonsor, jalan terbelah, fasilitas umum hancur, dan 80 % lebih bangunan roboh di Kabupaten Padang Pariaman.

Sabtu, 12 September 2009

BUKA PUASA BERSAMA YATIM PIATU







Keluarga Besar Jurusan Kimia Unjani melaksanakan buka puasa bersama anak yatim, sarjana baru, alumni, karyawan dan dosen di kampus Unjani Cimahi tanggal 12 September 2009

Senin, 17 Agustus 2009

SYUKURAN JURUSAN MENJELANG PUASA





Selesai Upacara Bendera 17 Agustus di Kampus Unjani Cimahi, Jurusan Kimia melaksanakan syukuran menghadapi bulan suci Ramadhan........mudah-mudahan kebersamaan ini tetap terjalin dan saling memaafkan. Hidup kimia................MERDEKA

Sabtu, 15 Agustus 2009

MAKNA KEMERDEKAAN BAGI GENERASI MUDA



Merdeka...Merdeka...Merdeka. Itulah ucapan yang pertama kali kita dengar menjelang Dirgahayu RI dirayakan. Tentunya kita sendiri bisa mengetahui apa arti kata “Merdeka” dan apa tujuan akhir dari kata tersebut. Merdeka berarti bebas, bebas disini diartikan bebas dari penjajahan, sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 alenia ke-1, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”. Tujuan akhir dari kata merdeka bagi bangsa Indonesia sendiri, yaitu ingin menjadi bangsa yang dapat meguasai segala kehidupan negaranya sendiri tanpa turut campur dari para penjajah.
Pada detik-detik ini, enam puluh empat tahun yang lalu, bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan oleh bangsa asing. Kemerdekaan yang diperoleh dengan perjuangan berdarah, oleh para pahlawan sjuhada bangsa. Oleh karena itu, sungguh layak dan patut kiranya bagi kita semua bangsa Indonesia untuk memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan berkah dan rahmat-NYA-lah kita akhirnya bisa mencapai kemerdekaan. Dengan kemerdekaan tersebut, hingga detik ini kehidupan bangsa kita tetap utuh, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap berdiri tegak.
Kita tentu masih ingat peristiwa yang tidak akan terlupakan oleh seluruh bangsa Indonesia yaitu tanggal 17 Agustus 1945. Peristiwa ini merupakan tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dari belenggu penjajah. Sejak itulah bangsa Inonesia merupakan bangsa yang bebas dari penjajahan. Namun penjajah masih ingin menguasai negara kita. Oleh karena itu, perjuangan bangsa kita pada saat itu belum selesai.
Kemerdekaan yang diperjuangkan para pendahulu kita bukan kemerdekaan yang asal merdeka. Bukanlah kemerdekaan yang tanpa konsep atau tanpa norma, apalagi tanpa hukum. Kemerdekaan yang mereka perjuangkan adalah kemerdekaan yang melembaga, kemerdekaan yang pada satu sisi memberi peluang setiap manusia untuk dapat menikmati hak asasinya, tetapi pada sisi lain mengharuskan ditunaikannya kewajiban warga negara, dipeliharanya kebersamaan, persatuan dan kesatuan, dan ditegakkannya hukum. Kemerdekaan yang konsep, norma dan segala sesuatunya dituangkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945, dan yang sesungguhnya terpateri dengan indah dalam rumusan Pancasila.
Masa lalu pasti berbeda dengan masa kini, begitu pula dengan dengan masa mendatang. Tak bijaksana memang jika mempertentangkan kekurangan serta kelebihan yang ada pada suatu masa dengan yang terjadi pada masa yang lain. Itu karena setiap masa pasti memiliki corak dan warna yang khas. Namun merefleksikan kembali prinsip luhur dan nilai-nilai kejuangan yang dahulu tertanam kuat dalam sanubari pejuang bagi bangsa yang kini tengah terpuruk adalah suatu hal yang positif.
Kalau selama penjajahan yang tiga setengah abad lamanya itu kita dihadapkan pada kekuatan senjata kaum penjajah, yang kita hadapi sekarang bukanlah senjata, melainkan pikiran-pikiran yang membuat kita tidak dapat bergerak secara merdeka, terlebih lagi kala bangsa kita yang merayakan ulang tahunnya yang ke-64 (17-8-2009), benarkah demikian? Mengapa? Bukankah kita negara yang sudah merdeka dan berdaulat penuh? Memang, tetapi kalau kita berani melanggar pikiran-pikiran yang dominan atau “main stream thoughts” dari masyarakat internasional, kita dianggap melakukan pelanggaran kontrak, yang harus dihukum dengan diisolasinya Indonesia dari masyarakat internasional.
Beranikah kita menghadapi isolasi dengan segala konsekwensinya? Musuh kita untuk meraih kembali kemandirian bangsa bukan hanya aturan main yang ditentukan oleh lembaga-lembaga internasional, tetapi di dalam Indonesia diperkuat oleh sekelompok elit intelektual bangsa Indonesia yang besar pengaruhnya dalam pembentukan opini publik, betapapun tidak masuk akalnya pikiran-pikiran mainstream yang menjelma menjadi aturan, konvensi, dogma dan doktrin.
Kita tidak mungkin memperoleh kembali kemandirian kalau kita tidak berani melakukan terobosan yang inovatif dan kreatif. Inovasi dan kreativitas memang selalu harus menerobos penghalang yang sudah menjadi aturan main, konvensi, dogma dan doktrin. Namun untuk melakukan itu semuanya ada biayanya, ada resikonya dalam bentuk kesengsaraan sementara. Ketika itu nanti terjadi, adalah para komprador dan kroni bangsa kita sendiri yang menghujat dan menakut-nakuti melalui penguasaan dan pengendalian pembentukan opini publik. Ini tidak mengherankan.
Sejenak marilah kita berpikir tentang apa yang harus kita lakukan sebagai generasi muda khususnya sebagai mahasiswa untuk bangsa ini, sudahkah kita melakukannya, serta apakah kita sudah memberikan yang terbaik bagi Tanah Air kita? Hati nuranilah yang dapat menjawabnya, atau mungkinkah ada diantara kita yang tidak pernah memikirkan nasib bangsa Indonesia dalam era globalisasi ini? Kita terlalu terlena akan kesenangan dan kenikmatan material yang kita rasakan saat ini, sementara di sisi lain banyak diantara kita yang nasibnya jauh lebih buruk dibanding kita.
Kemerdekaan fisik mungkin sudah kita raih. Tetapi, apakah kita sudah meraih kemerdekaan bertindak untuk menentukan sendiri sistem politik kita ? Apakah kita sudah meraih kemerdekaan bertindak untuk menentukan sendiri sistem ekonomi kita ? Apakah kita sudah meraih kemerdekaan bertindak untuk menentukan sendiri sistem budaya kita ? Apakah kita sudah meraih kemerdekaan dari belenggu ketakutan, dari belenggu ketidakberdayaan, dan dari belenggu kemiskinan?
Sebenarnya bangsa Indonesia sudah 64 tahun merdeka, tetapi kalau dilihat dari tingkah laku masyarakatnya sendiri, sebenarnya kita tidak mau merdeka. Misalnya, pemerintah sendiri sudah memberikan berbagai fasilitas yang memudahkan masyarakat, tetapi banyak diantaranya yang tidak mempergunakannya dengan baik, malah di rusak. Sumber Daya Alam yang dimiliki Indonesia sangat melimpah, tetapi apakah kita sudah mengolahnya seefisien mungkin?
Sebagai generasi muda, kita mempunyai tugas yang harus kita emban dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran sebagai generasi penerus bangsa. Kitalah calon pemimpin di masa depan. Kita juga harus menghargai perjuangan para pahlawan bangsa yang telah gugur di medan perang demi mencapai arti kata merdeka agar kita dapat mengambil pelajaran didalamnya, sehingga kita dapat membangun bersama menuju Indonesia yang damai dan sejahtera.