Hendaklah kamu semua mengusahakan ilmu pengetahuan itu sebelum dilenyapkan. Lenyapnya ilmu pengetahuan ialah dengan matinya orang-orang yang memberikan atau mengajarkannya. Seorang itu tidaklah dilahirkan langsung pandai, jadi ilmu pengetahuan itu pastilah harus dengan belajar. ( Ibnu Mas’ud r.a )

PHOTO TERBARU

PHOTO TERBARU
Studi Industri 2015

Minggu, 22 November 2009

Kimia MIPA vs. Teknik Kimia, Yang Mana?


Saya seorang pelajar yang berminat
pada bidang kimia namun bingung
menentukan pilihan untuk kuliah kimia
MIPA atau teknik kimia.

Mohon rekan-rekan milis dapat membantu
saya menentukan pilihan.


Demikian potongan sebuah mail yang muncul di milis kimia_indonesia. Rasanya, banyak pelajar SMU yang lain yang juga bingung tentang hal ini. Apa kamu salah satunya?

Mari kita bandingkan kedua jurusan ini dari dua sisi, yaitu ilmu yang dipelajari dan pekerjaan setelah lulus kuliah.


APA YANG DIPELAJARI?

Mari kita mulai dulu dengan definisi ilmu kimia dan teknik kimia.

Ilmu kimia (chemistry) adalah ilmu yang
menyelidiki sifat dan struktur zat, serta
interaksi antara materi-materi penyusun zat.

Teknik kimia (chemical engineering) adalah
ilmu yang mempelajari rekayasa untuk
menghasilkan sesuatu (produk) yang bisa
digunakan untuk keperluan manusia,
berlandaskan pengetahuan ilmu kimia.


Dari definisi ini, ada tiga poin yang akan kita lihat.


”Poin 1: Sifat: Eksplorasi vs. Aplikasi”

Salah satu kegiatan dalam ilmu kimia adalah mencari zat atau reaksi baru. Sementara itu, teknik kimia tidak berupaya mengembangkan zat,
struktur, atau reaksi baru, tetapi ia mengaplikasikan dan mengembangkan yang sudah ada.

Perlu dicatat, walaupun teknik kimia tidak mencari sesuatu yang baru dari sisi kimia, namun ia mencari sesuatu yang baru dari sisi teknik produksi.


”Poin 2: Orientasi: Ilmu Pengetahuan vs. Industri”

Misalkan ada sebuah reaksi yang ditemukan sebagai berikut.


A + B –> C + D


Hasil reaksi terbentuk dengan perbandingan C sebanyak 70% dan D 30%. Dari hasil reaksi ini, produk yang berguna adalah D.

Terhadap reaksi ini, bidang ilmu kimia dan teknik kimia akan bersikap berbeda.

Ilmuwan kimia akan berupaya merekayasa reaksi A + B tersebut agar menghasilkan D dengan persentase yang lebih besar lagi. Upaya tersebut dilakukan dengan berusaha mengetahui lebih detail tentang apa yang mempengaruhi reaksi A + B, sampai ke tingkat molekular bahkan sampai ke tingkat atom.

Orang teknik kimia akan mencari cara untuk mengoptimalkan proses reaksi tersebut agar dihasilkan produk D yang ekonomis, yaitu yang biaya produksinya paling murah. Mereka akan mempelajari proses mana yang harus dipilih; alat untuk mengatur suhu dan tekanan reaksi; alat untuk mempersiapkan bahan bakunya; alat untuk memurnikan produk; dan lain-lain.


”Poin 3: Target Skala: Kecil vs. Raksasa”

Ilmu kimia mempelajari reaksi dengan melakukannya pada skala kecil di lingkungan laboratorium, misalnya dalam hitungan gram saja. Sementara teknik kimia mempelajari reaksi untuk dilakukan pada skala besar, misalnya dalam hitungan ton. Ini karena hasil penelitian teknik kimia akan diterapkan pada bidang industri.


PEKERJAAN SETELAH LULUS

Salah satu yang membuat kita bimbang waktu memilih jurusan adalah tentang pekerjaan setelah kita lulus kuliah nanti. Apa ada lowongan pekerjaan untuk lulusan ilmu kimia? Bidangnya seperti apa? Kalau untuk teknik kimia?

Lulusan ilmu kimia bisa bekerja misalnya di laboratorium, di bidang pendidikan sebagai guru atau dosen, atau di bagian Kendali Mutu (Quality Control) di pabrik.

Lulusan teknik kimia biasa bekerja di pabrik yang memproduksi barang-barang melalui proses kimia, misalnya di pabrik semen, pupuk, kilang minyak, dan sebagainya.

Tetapi, apakah lulusan ilmu kimia tidak bisa bekerja di bidang "milik" orang teknik kimia, dan sebaliknya?

Tidak ada masalah. Kedua ilmu ini punya pijakan yang sama yaitu kimia. Lulusan ilmu kimia bisa saja bekerja di Bagian Produksi, dan lulusan teknik kimia bisa saja bekerja di laboratorium.

Hanya saja, setelah bekerja mereka perlu belajar lebih keras dibanding kalau mereka memilih jalur pekerjaan yang "normal". Namun kalau mau belajar, ini bukan hal yang mustahil.

Timbul pertanyaan, kalau kita mengambil pekerjaan yang "tidak sesuai" dengan kuliah kita, bukankah ilmu kita sia-sia?

Tidak juga. Toh waktu berkuliah kita akan belajar bagaimana memecahkan masalah secara sistematis, bagaimana berpikir dengan logis, bagaimana menghadapi bermacam-macam orang, dan bagaimana berdiplomasi. Ini semuanya adalah ilmu yang sangat penting dalam pekerjaan dan berlaku secara universal, tidak bergantung pada apa jenis pekerjaannya.

Di milis kimia_indonesia ada beberapa rekan kita yang bekerja pada bidang yang "tidak semestinya". Simak cerita mereka.

"Saya seorang teknik kimia, sekarang bekerja di bagian Lab. Mikrobiologi. Sekarang saya harus banyak lagi mempelajari hal-hal baru dan harus menyesuaikan dulu dengan pekerjaan yang nantinya akan saya hadapi."
Ikhsan Guswenrivo


"Saya sendiri dari kimia murni baik S1 maupun S2. Bahkan SMA-pun dari analis kimia. Tapi saya pernah bekerja di lab dan Bagian Produksi.

Memang pada kenyataannya untuk orang kimia murni pada saat bekerja di bagian produksi kita harus banyak buka-buka dulu buku wajibnya orang teknik kimia seperti "Perry’s Chemical Engineers Handbook" dan "Basic Thermodynamics". Begitu juga orang teknik kimia kalau ditempatkan bekerja di lab harus buka-buka buku wajibnya orang kimia murni. Karena sebetulnya antara orang kimia dan teknik kimia sama-sama punya basis kimia yang kuat, masing-masing menjadi mudah untuk mempelajarinya.

Di bagian Lab maupun Produksi saya menempatkan baik orang kimia murni maupun orang teknik kimia sehingga saling melengkapi. Alhasil kita
punya tim yang solid antara produksi dan lab."
Miftahudin Maksum
PT. Universal Laboratory
Tj.Uncang Batam (*)


"Saya S1 di kimia MIPA, penelitian saya tentang polimer. Sekarang saya di graduate school, biarpun tetap di bidang kimia, topik penelitiannya beda sekali. Saya harus belajar tentang neuron cell culture, tentang biomaterial, dan lain-lain (research saya tentang surface modification for retinal and cortical implant)"
Paulin Wahjudi
University of Southern California
Department of Chemistry (*)


PENUTUP

Setelah membaca tulisan ini, moga-moga sekarang kamu sudah lebih mantap untuk menentukan pilihan jurusanmu.

Saat sudah masuk kuliah nanti, jangan lupa untuk tetap membuka mata dan pikiran terhadap perkembangan teknologi. Pada saat ini, banyak topik penelitian yang berupa penelitian antarbidang ilmu. Kita tidak cukup hanya mengerti kimia MIPA ataupun teknik kimia saja, tetapi juga belajar lagi entah tentang elektro, biologi, dan sebagainya.

Selamat memilih jurusan dan belajar!


Catatan:

* Tulisan ini adalah rangkuman dari diskusi di milis kimia_indonesia bulan Februari-Maret 2005.
* Data afiliasi rekan-rekan di atas adalah berdasarkan data pada bulan Maret 2005.
Sumber: http://www.chem-is-try.org/

Senin, 16 November 2009

Seminar Proposal

Hari ini 16 Nopember 2009 s.d 21 Nopember 2009 dilaksanakan Seminar Proposan Tugas Akhir I di Jurusan Kimia Unjani, seminar diikuti 36 mahasiswa tingkat akhir untuk memenuhi persyaratan menempuh Sarjana Kimia.

Kamis, 29 Oktober 2009

Menghidupkan Kembali Semangat Sumpah Pemuda

Tanggal 28 Oktokber, setiap tahun kita memperingati hari sumpah pemuda Indonesia. Mengenang kembali nasionalisme pemuda pemudi kita dulu yang memiliki satu kesamaan cita-cita dan keinginan, yaitu menginginkan terciptanya persatuan di antara mereka. Ya mereka memiliki satu tujan bersama, hingga akhirnya tercetuslah SUMPAH PEMUDA yang memiliki satu kekuatan emosional untuk menyatukan perasaan nasionalisme pemuda dan pemudi Indonesia pada saat itu.

Setiap tahun hari Sumpah Pemuda diperingati sejak berpuluh puluh tahun yang lalu dengan berbagai cara, Upacara bendera, teatrikal, dan lain sebagainya. Tetapi masihkah Kekuatan Emosional SUMPAH PEMUDA dapat merangkul pemuda pemudi di zaman ini seperti dulu ? MENYATUKAN SELURUH PEMUDA DAN PEMUDI INDONESIA. Bukan hanya Pemuda pemudi satu universitas,bukan pemuda pemudi sekampung dan bukan pemuda pemudi satu geng saja.

Memperingati sumpah pemuda bukan saja hanya sekedar sebuah formalitas. Memperingati sumpah pemuda bukan hanya pada tanggal 28 oktokber saja, Memperingati sumpah pemuda membutuhkan lebih dari itu. Jika setelah tanggal 28 Oktober 2009 ini, kita masih melihat dan mendengar adanya berita tawuran antar mahasiswa, tawuran antar kampung, tawuran pelajar, untuk itu kita membutuhkan lebih dari peringatan sumpah pemuda 28 Oktober yang diperingati setiap tahun untuk menghidupkan semangat sumpah pemuda Indonesia.
LANJUTKAN PERJUANGANMU WAHAI PEMUDA PEMUDI INDONESIA...................

Selasa, 13 Oktober 2009

Lima Kiat Menghadapi Sesuatu Yang Tidak Diduga


Oleh: Aa Gym

Lima Kiat Menghadapi Sesuatu Yang Tidak Diduga
1. Jangan Panik
2. Jangan Emosional
3. Jangan Tergesa-gesa
4. Jangan Mendramatisir Masalah
5. Jangan Pernah Putus Asa


1. Jangan Panik
Pertama: jangan Panik, mengapa ? Karena orang yang panik berpikirnya sangat pendek, padahal masalah yang dihadapi selalu membutuhkan ketenangan, kejernihan berfikir, kemampuan menghimpun input dengan baik, membaca peta masalah, orang panik tidak punya waktu untuk melakukan hal ini.

Kepanikan memang sumber masalah baru dibandingkan masalah yang sebenarnya.

Jika terjadi masalah yang tidak diinginkan, tenang, tetap tenang sambil kita baca situasi, kendalikan diri, jangan bertindak, jangan berkata, jangan merespone kecuali sudah bisa mengendalikan diri. Kunci pertama ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jangan panik dan kita sikapi masalah dengan ketenangan.

Bertekadlah kita menjadi orang yang benar-benar bisa mengendalikan diri. Bagaimana supaya tidak panik ? Caranya adalah tarik nafas, tahan, buang perlahan-lahan, itu sudah bagian daripada membuat diri kita lebih tenang, katakanlah Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, kami semua milik Allah dan kembali kepada Allah. Tidak mungkin menimpa kami satu musibah kecuali dengan ijin Allah, tenang tarik napas, rilekkan badan, ingat kepada Allah yang menciptakan semua kejadian dan buatlah agar orang di sekitar kita jangan panik, InsyaAllah sekitar kita akan tenang dan ketenangan sekitar kita membawa pula kemampuan bagi kita untuk berfikir lebih jernih dan bertindak lebih tepat.

Saudaraku, marilah kita bertekad menjadi pribadi yang tenang, kalem terkendali sehingga setiap masalah kita bisa sikapi dengan sikap terbaik kita.

2. Jangan Emosional

Jangan emosional. Mengapa ? Karena sikap emosional kepentingannya hanya memuaskan nafsu. Sedangkan masalah tidak bisa diselesaikan dengan memuaskan nafsu.

Nafsu itu pertimbangannya tidak dengan akal tapi hanya mengandalkan perasaan. Sedangkan untuk menyelesaikan masalah dengan baik, kita butuh kejernihan berfikir disamping kebeningan hati.

Orang yang pemarah akalnya pendek, kata-katanya menyakitkan, matanya melotot wajahnya membara, detak jantung nya tidak terkendali. Bahkan perilakunya bisa memukul, menendang dan membunuh. Betapa bahayanya orang yang emosional.
Marah tidak menyelesaikan masalah, marah seperti menyiram bensin kepada api hanya membakar masalah.

Pemarah tidak pernah disukai, pemarah dijauhi, pemarah juga dibenci. Untuk mengendalikan emosi caranya adalah, pertama menurut Nabi jangan bereaksi kalau ada sesuatu yang mengecewakan. Yang kedua pindah posisi, karena pindah posisi, pindah suasana, pindah input, lebih membuat kita terkendali. InsyaAllah ketika kita tenang, solusi akan lebih mudah kita temukan.

3. Jangan Tergesa-Gesa

Ada peribahasa pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Orang yang tergesa-gesa maka dia harus siap memikul penyesalan. Karena tergesa-gesa artinya bukan masalah waktu. Tergesa-gesa itu karena kurang lengkap input dalam menyelesaikan masalah.

Jadi tergesa-gesa tidak diukur oleh waktu. Tapi diukur oleh sudah lengkapkah input yang dia miliki, sudah pahamkah dengan situasi yang dia hadapi.

Nah orang tergesa-gesa dia tidak punya kemampuan, kesabaran untuk melengkapi data, melengkapi fakta. Sehingga keputusannya, kata-katanya, sikapnya, tindak-tanduknya bukan berdasarkan data, fakta atau input yang benar, akurat dan lengkap tapi semata-mata karena terdorong nafsu ingin berbuat sesuatu.

Percayalah tergesa-gesa ujungnya penyesalan, tergesar-gesa hanya mendatangkan penyesalan.

Jadi jika ada masalah jangan tergesa-gesa mengomentari, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Tapi fokuskan pikiran, saya harus mencari input, mencari data yang BAL. Yaitu Benar-Akurat-Lengkap. Jangan mengambil sikap apapun sebelum kita menghimpun data.

Ketrampilan kita mencermati data yang betul-betul kita petakan, kita bisa melakukan tindakan yang cermat. Tanpa data, tanpa fakta, tanpa bukti, itulah yang dinamakan tergesa-gesa. Siapapun yang bertindak tergesa-gesa, hampir dapat dipastikan tindakannya tidak tepat dan berbuah penyesalan.

4. Jangan Mendramatisir Masalah

Nabi Muhammad SAW adalah seorang pribadi yang sangat kalem, tenang jernih, walaupun masalah bertubi-tubi datang dari kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah. Kenapa kalem ? karena kalem itulah yang dapat membuat kita melakukan tindakan dengan tepat.

Kalau kita tidak hati-hati saudaraku, banyak diantara kita yang tidak terampil mengendalikan pikirannya sehingga masalah sejengkal, jadi sedepa, jadi sehasta dan akibatnya menimbun dia. Kita harus mulai berfikir jernih dan proporsional. Yang kecil biarlah kecil, yang sedang biarlah sedang, yang besar biarlah besar. Jangan sampai yang kecil di dramatisir menjadi besar dan akhirnya menyiksa diri kita sendiri.

Sekali lagi dalam situasi apapun jangan terpancing untuk mendramatisir masalah, jangan mempersulit sesuatu yang simpel, jangan memperbesar sesuatu yang kecil, jangan membuat mencekam sesuatu yang sederhana, jangan membuat begitu gawat sesuatu yang sebetulnya ringan-ringan saja. Mudahkan urusan, jangan dipersulit, gembirakan.. jangan dibuat menakutkan, mencekam dan menegangkan.

Adalah manusiawi jikalau kita tercekam oleh rasa cemas, rasa takut, takut kerugian harta, takut kehilangan benda, takut hilangnya popularitas, takut hilang nya jabatan, kedudukan, ini hal yang sangat manusiawi. Tetapi kita sengsara dicekam oleh takut, kita sendiri yang rugi. Mau tidak mau masalah sudah ada dan harus kita hadapi, dan kita harus terampil mengukur masalah dengan proporsional. Tetap kendalikan diri, jangan panik, jangan emosional, jangan tergesa-gesa mengambil sikap, dan jangan terlena sengsara mendramatisir masalah.

Saudaraku.. Mari kita nikmati hidup dengan terampil mengendalikan pikiran dan hati kita

5. Jangan Pernah Putus Asa

Selain putus asa terlarang, juga sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Kita harus tau bahwa setiap masalah yang menimpa kita itu mutlak sudah diukur oleh Yang Menciptakan segala-galanya. Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.

Tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah, tidak ada alasan bagi kita untuk lari, tidak ada alasan bagi kita untuk berputus asa. Mengapa ? Karena kita yakin sesungguhnya pertolongan tidak hanya mengandalkan akal, tubuh, kawan, ataupun kekuatan kita. Kita tidak berputus asa karena kita yakin pertolongan datang dari Allah Yang Maha Kuasa.

Mengapa kita berputus asa ? Kita berputus asa sebab kita mengandalkan kemampuan kita. Padahal kita amat lemah tiada daya. Kita berputus asa karena kita bersandar kepada teman, kepada relasi, kepada tabungan yang semua itu justru jika tidak dengan ijin Allah, tidak akan membawa manfaat.

Oleh karena itulah jika kita ingin tidak berputus asa, "Dan orang yang hatinya bulat bertawakal sepenuh hati kepada Allah, dialah yang akan di cukupi". Salah satunya adalah "Pertolongan dari tempat yang tidak di duga-duga". Jika Allah menghendaki maka terjadilah.

Susah-susah kita berputus asa, lebih baik dekati Allah dengan sesungguhnya, sambil kita sempurnakan ikhtiar kita.

Jumat, 09 Oktober 2009

Gempa Bumi 7,6 SR di Ranah Minang


Telah terjadi gempa bumi 7,6 SR di Ranah Minang hari Rabu tanggal 30 September 2009 pukul 17.16 WIB. Korban meninggal diperkirakan lebih dari 1000 orang, puluhan ribu luka berat dan ringan, ribuan bangunan roboh, tanah lonsor, jalan terbelah, fasilitas umum hancur, dan 80 % lebih bangunan roboh di Kabupaten Padang Pariaman.