DR. Savante Arreneus dilahirkan di Sawahlunto pada tanggal 5 Agustus 1971, sebagai anak sulung dari 4 bersaudara dari orang tua Binsalib M. dan Nurhayati. Menyelesaikan pendidikan SD s.d SMA di Sawahlunto, dan memperoleh gelar Sarjana Kimia pada tahun 1995 di Jurusan Kimia Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi. Pada tahun 2001 menyelesaikan Magister Kimia di Jurusan Kimia Universitas Andalas Padang dan pada tahu 2005 mendapat kesempatan untuk mengikuti Program Doktor di Program Pasca Sarjana ITB dengan beasiswa BPPS dalam bidang Biokimia di bawah bimbingan Bapak Prof. Akhmaloka, Ph.D sebagai promotor, dengan co promotor Fida Madayanti, Ph.D dan Dr. Rukman Hertadi. Tanggal 9 Desember 2010, mendapatkan gelar Doktor pada sidang terbuka di Program Pascasarjana ITB. Dari tahun 2000 sampai sekarang menjadi dosen di Jurusan Kimia Universitas Tanjungpura, Pontianak. Savante menikah dengan dr. Dewi Setiawati dan mempunyai 3 orang anak yaitu: Mikail Avicenna, Charissa Seravinna Az-Zahra dan Sheera Aisya Zavira.
PHOTO TERBARU
Studi Industri 2015
Kamis, 09 Desember 2010
Savante Arreneuz, alumni Kimia Unjani I meraih Gelar Doktor
DR. Savante Arreneus dilahirkan di Sawahlunto pada tanggal 5 Agustus 1971, sebagai anak sulung dari 4 bersaudara dari orang tua Binsalib M. dan Nurhayati. Menyelesaikan pendidikan SD s.d SMA di Sawahlunto, dan memperoleh gelar Sarjana Kimia pada tahun 1995 di Jurusan Kimia Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi. Pada tahun 2001 menyelesaikan Magister Kimia di Jurusan Kimia Universitas Andalas Padang dan pada tahu 2005 mendapat kesempatan untuk mengikuti Program Doktor di Program Pasca Sarjana ITB dengan beasiswa BPPS dalam bidang Biokimia di bawah bimbingan Bapak Prof. Akhmaloka, Ph.D sebagai promotor, dengan co promotor Fida Madayanti, Ph.D dan Dr. Rukman Hertadi. Tanggal 9 Desember 2010, mendapatkan gelar Doktor pada sidang terbuka di Program Pascasarjana ITB. Dari tahun 2000 sampai sekarang menjadi dosen di Jurusan Kimia Universitas Tanjungpura, Pontianak. Savante menikah dengan dr. Dewi Setiawati dan mempunyai 3 orang anak yaitu: Mikail Avicenna, Charissa Seravinna Az-Zahra dan Sheera Aisya Zavira.
Rabu, 08 Desember 2010
Beasiswa S-2/S-3 Dikti sudah Dibuka
KOMPAS.com - Pendaftaran beasiswa S-2/S-3 Luar Negeri dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional (Dikti Kemdiknas) sudah dibuka untuk gelombang 6 alokasi tahun 2011. Program beasiswa ini diperuntukkan bagi dosen Tetap PTN, dosen DPk dan dosen tetap yayasan (PTS) di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional, terutama untuk program S-3 (PhD).
Bagi yang berminat, pendaftaran beasiswa secara online bisa dilakukan melalui situs http://beasiswa.dikti.go.id/. Melalui pendaftaran secara online ini, setiap pendaftar akan memperoleh nomor registrasi online.
Selanjutnya, untuk mengklarifikasi informasi yang telah disampaikan secara online itu, pelamar harus mengirimkan berkas-berkas lamaran berupa:
-Nomor Registrasi Online
-Surat keterangan dari Rektor dan/atau Kopertis
-Form A Dikti
-Letter of Acceptance dari perguruan tinggi yang terakreditasi
-Foto kopi ijazah S-1 bagi pelamar jenjang S-2 dan ijazah S-2 bagi pelamar jenjang S-3
-Bukti kemampuan berbahasa Inggris (TOEFL/IELTS), Jerman, Perancis, Jepang atau bahasa lain sesuai negara tempat perguruan tinggi yang dituju (tidak lebih dari 2 tahun terakhir)
-Surat rekomendasi (3 buah)
-Proposal penelitian
Seluruh berkas tersebut di atas dimasukkan dalam amplop coklat dengan menuliskan nama, alamat, serta nomor registrasi online pengirim dan dikirim ke alamat: Direktorat Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kompleks Kemdiknas Gedung D Lantai 5 Jln. Jenderal Sudirman, Pintu 1 Senayan, Jakarta.
Batas akhir pengiriman berkas pendaftaran paling lambat diterima 30 Januari 2011 pukul 15.00 WIB. Informasi bisa disampaikan melalui email: blndikti@gmail.com.
150.000 Dosen Belum Optimal Meneliti
Jakarta, Kompas -
Dalam acara malam Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL) 2010, akhir pekan lalu, terungkap hanya sekitar 176 usulan penelitian yang masuk. Dari 25 anugerah yang disediakan dengan penghargaan untuk setiap peneliti Rp 250 juta, dewan juri hanya memutuskan 15 peneliti yang layak mendapatkan anugerah kekayaan intelektual luar biasa.
Pada penghargaan AKIL pertama tahun lalu, sebenarnya pemerintah menyediakan anugerah untuk 50 peneliti. Namun, penghargaan itu hanya terserap sekitar 50 persen sehingga jumlah penghargaan tahun ini dikurangi menjadi 25 anugerah.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional sekaligus Penasihat AKIL 2010 Djoko Santoso mengatakan, jumlah pelamar yang masuk terlalu kecil dibandingkan potensi peneliti Indonesia. ”Ke depan perlu perbaikan dari sosialisasi dan cara seleksi. Tetapi yang utama bagaimana potensi peneliti Indonesia itu berkembang dan menghasilkan karya penelitian yang luar biasa bagi bangsa ini,” kata Djoko.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menambahkan, pemberian anugerah ini untuk menumbuhkan karya kreatif dan inovatif di kalangan peneliti.
Penghargaan AKIL yang memasuki tahun kedua itu merupakan kerja sama Kemendiknas; Kementerian Hukum dan HAM; Kementerian Pertanian; Kementerian Riset dan Teknologi; serta Kementerian Perdagangan.
Sejumlah peneliti yang menerima AKIL 2010 ternyata juga memiliki reputasi sebagai peneliti internasional. Bahkan, ada karya intelektual peneliti Indonesia yang sudah dipatenkan di luar negeri.
Sabtu, 27 November 2010
Jumat, 12 November 2010
Simposium Kimia Bahan Alam di ITB
Rabu, 27 Oktober 2010
Kamis, 07 Oktober 2010
Nobel Kimia 2010 Diumumkan

AFP/SCANPIX/JANERIK HENRIKSSON
Lars Thelander, Staffan Normark, dan Jan-Erling Backvall (kiri ke kanan), ketiganya dari The Royal Swedish Academy of Sciences, Rabu (6/10), mengumumkan peraih penghargaan Nobel Kimia 2010 di Stockholm, Swedia. Nobel Kimia diraih tiga ilmuwan secara bersama. Mereka adalah (foto mereka tampak di layar) Richard F Heck dari AS, Ei-ichi Negishi (Jepang), dan Akira Suzuki (Jepang).
Stockholm, Rabu - Tiga ilmuwan, satu orang dari Amerika Serikat dan dua lainnya dari Jepang, berbagi penghargaan Nobel Kimia, Rabu (6/10). Mereka membuat terobosan dalam cara melekatkan atom-atom karbon bersama-sama. Metode ini kini digunakan di dunia obat dan komputer.
Richard F Heck (AS) serta Ei-ichi Negishi dan Akira Suzuki—keduanya dari Jepang—sukses dengan penemuan mereka pada 40 tahun lalu. Metode ini kini disebut dengan palladium- catalyzed cross coupling. Dengan metode baru itu, terbentuk molekul baru yang lebih kompleks. Seperti diumumkan oleh The Royal Swedish Academy of Sciences, molekul kini digunakan untuk peralatan elektronik canggih.
Heck (79) adalah profesor emeritus pada University of Delaware dan sekarang tinggal di Filipina. Negishi (75) adalah seorang profesor kimia dari Purdue University di West Lafayette, Indiana. Sementara Suzuki (80) merupakan seorang pensiunan profesor dari Hokkaido University di Sapporo, Jepang.
Negishi kepada para wartawan di Stockholm, melalui telepon dari Indiana, mengatakan, dia amat gembira dan kaget menerima telepon dari Komite Nobel pada pagi buta kemarin. Dia mengaku memimpikan penghargaan tersebut ”setengah abad lalu”. ”Penghargaan Nobel menjadi mimpi saya ketika saya berusia 20-an,” ujarnya. Dia akan menggunakan hadiah sebesar 10 juta kronor (sekitar Rp 12 miliar) untuk melakukan riset.
”Saya baru mencapai separuh cita-cita saya dan saya masih akan bekerja beberapa tahun lagi,” ujar Negishi. Heck dari Filipina berkomentar, ”Awalnya seperti pekerjaan yang terus berlangsung, tidak jelas apakah berhasil atau tidak.”
Menurut Komite Nobel, pada musim semi tahun ini sejumlah ilmuwan mengumumkan telah berhasil melekatkan atom palladium pada graphene—temuan terobosan pemenang Nobel Fisika 2010.
Ultratipis
Dua ilmuwan kelahiran Rusia, Andre Geim (52) dan Konstantin Novoselov (36), menerima Nobel Fisika tahun ini. Keduanya adalah peneliti dan guru besar di Universitas Manchester, Inggris.
Keduanya sukses menemukan material karbon yang ultratipis dan dikenal sebagai material terkuat, 100 kali lipat lebih kuat dari logam, yang dikenal sejauh ini. Material ini disebut graphene.
Graphene merupakan materi yang vital untuk komputer supercepat dan layar sentuh yang transparan.
Sekarang, dalam berbagai percobaan, graphene terbuka kemungkinan untuk digunakan sebagai bahan pembuatan satelit, pesawat udara, dan mobil. Demikian ditegaskan Komite Nobel di Stockholm. ”Transistor graphene diprediksi akan jauh lebih cepat dibandingkan dengan transistor silikon yang sekarang ada. Hasilnya adalah komputer yang amat efisien,” tulis situs resmi Nobelprize.com.
Keduanya asli Rusia dan memulai karier fisikanya di Rusia. Mereka bekerja sama di Belanda sebelum pindah ke Inggris.(AP/ISW/YUN)
Kompas, Kamis, 7 Oktober 2010 | 03:39 WIB

