PHOTO TERBARU
Studi Industri 2015
Rabu, 09 Februari 2011
Plus-Minus Semester Pendek
Di kalangan mahasiswa kebijakan program semester pendek tergolong cukup populer. Selain dinilai praktis sebagai cara mudah mempersingkat masa studi. Selain itu bagi mereka yang kurang mendapatkan nilai maksimal di perkuliahan reguler juga dapat memanfaatkan program ini sebagai kesempatan untuk remediasi. Hanya saja kemudahan yang ditawarkan program ini terkadang justru disalahartikan sebagian mahasiswa. Mereka menjadi malas untuk berusaha di perkuliahan reguler dan hanya bergantung pada pelaksanaan semester pendek.
Berdasar atas kondisi tersebut maka kemudian banyak yang mempertanyakan soal keefektifan dan keefisienan pelaksanaan semester pendek atau lebih dikenal disebut sebagai SP. Sehubungan dengan ini Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Drs Buddy Riyanto MSi kepada Tim Akademia mengatakan penyelenggaraan SP pada dasarnya demi kebaikan mahasiswa itu sendiri.
Diutarakan mahasiswa yang mendapat nilai kurang memuaskan, dengan program semester pendek diberikan kesempatan untuk memperbaiki. “Semester pendek adalah proses perkuliahan yang dilaksanakan dalam waktu singkat, misalkan seharusnya mahasiswa menempuh mata kuliah selama 4 bulan, mahasiswa dapat mengikuti semester pendek selama 2 bulan saja, tentunya hal ini disyaratkan bagi mahasiswa yang ingin memperbaiki nilai,” ujar dia.
Berkaca pada pelaksanaan semester pendek di Unisri, Buddy mengatakan tidak bersifat wajib. Hanya saja bagi mahasiswa yang bernilai buruk, misalnya nilai di perkuliahan reguler maka dosen akan memberikan arahan untuk mengulangnya di semester pendek. Diterangkan untuk pelaksanaan semester pendek di Unisri digelar sekali dalam setahun. Dalam pelaksanaanya, pihak universitas mensyaratkan adanya batasan peserta.
“Di Jurusan Komunikasi peserta maksimal delapan orang, lebih ataupun kurang tak diperbolehkan. Dalam hal ini para dosen harus berusaha lebih baik lagi dalam proses pembelajaran agar nilai yang dicapai mahasiswa menjadi lebih baik,“ imbuhnya.
Terpisah, dengan alasan efektivitas, Universitas Sebelas Maret telah menghentikan program semester pendek sejak tahun 2007 lalu. Dekan FISIP UNS, Drs Supriyadi SU mengatakan penghentian kebijakan tersebut didasarkan atas surat keputusan Rektor UNS. “Pertimbangannya bahwa semester pendek meskipun efisien tetapi kurang efektif. Karena itu untuk menunjang efektivitas pembelajaran lebih dipilih model kurikulum berbasis kompetensi (KBK) agar mahasiswa lebih intensif dalam mengikuti kuliah,” papar dia.
Sementara mengenai mata kuliah yang tertinggal, dengan ditiadakannya semester pendek maka bisa ditempuh di semester berikutnya. Sebaliknya bagi mahasiswa yang berkeinginan mengambil mata kuliah di semester berikutnya lebih awal juga diperbolehkan. “Ini sesuai ketentuan dalam kebijakan sistem kredit yang kita gunakan,” imbuh Supriyadi.
Kerugian
Disinggung mengenai pandangan mahasiswa yang menilai semester pendek sebagai salah satu upaya mempercepat kelulusan, Supriyadi tidak banyak berkomentar. Kendati menguntungkan untuk mempercepat kelulusan tetapi kerugian yang diperoleh juga tidak bisa dibilang sedikit. Sebab, pendeknya waktu perkuliahan menyebabkan mahasiswa seolah dipaksa memahami materi sebanyak ketika menempuh kuliah reguler.
“Memang benar jika di semester pendek sudah pasti dianggap lulus. Tapi untuk pemahaman tentang mata kuliah tersebut mungkin sulit. Sehingga mahasiswa cenderung lebih memilih “hanya” lulus dan mendapat titel, ketimbang lulus dengan menguasai mata kuliah yang diajarkan,” papar dia.
Terlepas dari perbedaan kebijakan yang diterapkan setiap perguruan tinggi, sebagai mahasiswa tentu sudah bisa menimbang apa yang terbaik bagi dirinya. Salah seorang mahasiswa Jurusan PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Anindita Ayu S, misalnya berpendapat tak ada salahnya mahasiswa mengikuti semester pendek. Hanya saja hal itu harus benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Sebab menurut mahasiswa yang juga pernah mengikuti program semester pendek ini, dibutuhkan biaya yang relatif tidak murah. Dukungan dosen juga perlu diperoleh agar mahasiswa mampu menyelesaikan mata kuliah yang belum berhasil ditempuhnya. “Kalau memang sudah mampu mengikuti kuliah biasa kenapa mengikuti semester pendek? Karena itu sebelum mengikuti kita harus paham benar apa manfaat yang diperoleh,” ujar dia. (arum/bintang/radit)
Sumber: http://harianjoglosemar.com/berita/plus-minus-semester-pendek-31543.html
"Pembajakan" Ilmuwan Masih Berlangsung
Rabu,
09 Februari 2011
Jakarta, Kompas - Minimnya sarana dan pemanfaatan hasil riset serta lemahnya sistem penghargaan tidak menjadi kendala bagi sejumlah ilmuwan dalam mengembangkan keahlian. Namun, kondisi ini dimanfaatkan negara lain untuk ”membajak” ilmuwan Indonesia.Sejumlah ilmuwan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, ilmuwan yang diincar terutama dengan keahlian langka.
”Iming-iming yang diberikan umumnya gaji tinggi dan fasilitas lengkap,” kata ahli mikrobiologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, I Made Sudiana, Selasa (8/2) di Cibinong Science Center, Cibinong, Jawa Barat.
Sudiana baru-baru ini mengembangkan riset isolasi dan pengembangbiakan mikroba tanah dari lereng Gunung Merapi. Tujuan riset untuk percepatan pengayaan unsur hara lereng Merapi pascaletusan tahun lalu. Pengambilan sampel tanah berjarak 5 kilometer sampai 20 kilometer dari puncak Merapi.
Saat ini Sudiana mampu mengisolasi dan mengembangbiakkan lima strain mikroba endemik lereng Merapi yang berfungsi sebagai pelarut fosfat, penambat nitrogen, dan pengatur hormon tumbuh. Mikroba-mikroba itu kemudian diintegrasikan ke dalam pupuk organik cair yang sudah siap diaplikasikan untuk produksi pertanian di lereng Merapi yang kini sebagian besar masih tertutup material vulkanik.
”Mungkin karena hasil riset ini, negara tetangga menawari bekerja dengan gaji Rp 40 juta sebulan,” kata Sudiana. Lebih dari tujuh kali lipat dari gaji sekarang.
Merancang kebutuhan
Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi Amin Soebandrio mengatakan, Indonesia tidak secepat negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, atau Vietnam, dalam mengoptimalkan tenaga peneliti unggulan.
”Sebetulnya, bukan pendapatan tinggi yang diharapkan para periset, tetapi lebih pada iklim penelitian yang menyegarkan,” kata Amin.
Carunia Mulya Firdausy, profesor riset pada Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, mengatakan, negara-negara yang sedang melangkah maju melalui kegiatan riset, seperti Malaysia dan Korea Selatan, justru melarang para ilmuwannya bekerja ke luar negeri. Meski demikian, pemerintah memberikan fasilitas yang memadai untuk peneliti.
Amin mengatakan, ”pembajakan” para ilmuwan juga dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu sebagai prestasi menggapai reputasi internasional. (NAW)
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/02/09/04204263/pembajakan.ilmuwan.masih.berlangsung
Minggu, 06 Februari 2011
Tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011

Kabar gembira buat semua pecinta kimia, karena dua tahun mendatang tepatnya tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011 (International Year of Chemistry – IYC 2011 – Our Life , Our Future). Gagasan Tahun Internasional Kimia 2011 ini pertama kali dicanangkan pada bulan Agustus 2007 pada pertemuan umum The International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) di Turin Italia. Gagasan ini ternyata disambut baik oleh dewan PBB dan pada pertemuan PBB bulan Desember 2008, IUPAC dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyetujui untuk merayakan tahun 2011 sebagai Tahun Internasional Kimia. Tahun 2011 juga bertepatan dengan peringatan 100 tahun penghargaan Nobel Prize Kimia untuk Mme Maria Sklodowska Curie, yang berarti juga peringatan akan kontribusi wanita ke ilmu sains.
Peranan kimia dalam kehidupan manusia begitu penting, seluruh materi baik padat, larutan dan gas tersusun dari berbagai unsur-unsur kimia dan bahkan seluruh proses kehidupan ditentukan oleh berbagai reaksi kimia. IUPAC dan UNESCO menyadari sudah saatnya untuk memperingati keberhasilan kimia dan sumbangannya bagi kehidupan manusia.
“Tahun Internasional Kimia akan meningkatkan apresiasi global terhadap perkembangan ilmu kimia dalam kehidupan kita dan masa depan kita. Saya berharap peringatan ini dapat meningkatkan kepedulian publik terhadap kimia dan meningkatkan ketertarikan kaum muda akan ilmu sains serta memberikan masa depan yang cerah bagi masa depan kimia”, sambutan dari Ketua the International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC), Professor Jung-Il Jin pada pertemuan PBB.
“Saya menyambut kesempatan untuk memperingati kimia sebagai salah satu dasar dari ilmu sains,” ujar Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO, “Meningkatkan kepedulian publik terhadap kimia adalah suatu hal yang sangat penting dalam rangka menjawab tantangan pembangunan yang berkesinambungan. Adalah hal yang mutlak bahwa kimia berperan penting dalam membangun sumber alternatif energi dan menghidupi populasi dunia yang terus berkembang” tambahnya.
Dalam memperingati Tahun Internasional Kimia 2011 akan direncanakan berbagai aktivitas dan event baik regional, nasional dan internasional yang didukung baik dari asosiasi kimia nasional, institusi edukasi, industri, pemerintahan dan organisasi non-pemerintahan. Aktivitas dan event ini berusaha memperkenalkan kepada publik luas tentang peranan kimia, memberikan solusi terhadap tantangan global, dan membangun generasi muda yang peduli terhadap sains.
Situs chem-is-try.org juga akan turut aktif menyukseskan Tahun Internasional Kimia 2011 dengan berusaha bekerjasama dengan beberapa instansi yang peduli dengan sains. Jika kamu punya ide atau masukan untuk menyukseskan Tahun Internasional Kimia 2011, silahkan tulis pada bagian komentar artikel ini. Kami tunggu ide dan masukannya.
Ditulis oleh Soetrisno pada 19-03-2009Sumber: http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/tahun-2011-dinobatkan-sebagai-tahun-internasional-kimia-2011/
Kamis, 30 Desember 2010
Tersedia Dana Abadi Beasiswa Rp 1 Triliun
Jakarta, Kompas -
Meski demikian, dana itu tidak bisa segera dicairkan karena perangkat utama yang dibutuhkan sebagai syarat pencairan dana, yakni komite pendidikan yang harus dibentuk oleh beberapa kementerian, hingga saat ini belum terbentuk.
”Dana abadinya sudah tersedia Rp 1 triliun dalam APBN Perubahan 2010. Dana ini akan kami kelola, disimpan di deposito dengan bunga 7 persen per tahun, sehingga kami harap ada dana beasiswa Rp 70 miliar dalam satu tahun,” ungkap Kepala Pusat Investasi Pemerintah (PIP), Kementerian Keuangan, Soritaon Siregar di Jakarta, Rabu (29/12).
Menurut Soritaon, PIP sudah siap mencairkan dana beasiswa tersebut setelah dasar hukumnya jelas, yakni terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 238/PMK.05/2010 tentang Tata Cara Penyediaan, Pencairan, Pengelolaan, dan Pertanggungjawaban Endowment Fund
Dana ini dialokasikan dalam APBN-P 2010 sebesar Rp 1 triliun yang berasal dari lonjakan penerimaan negara dari hasil penjualan minyak mentah dan pendapatan pajak migas.
Meski sudah memegang dana abadi pendidikan tahun 2010, PIP tidak serta-merta dapat mencairkan dana tersebut untuk beasiswa. Keputusan untuk pencairan dana beasiswa dan penerimanya harus dikeluarkan oleh komite pendidikan yang hingga saat ini belum jelas statusnya karena belum terbentuk. Komite pendidikan ini merupakan lembaga gabungan antardepartemen yang selama ini memang sudah mengelola dana pendidikan, antara lain Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perhubungan.
Sebelumnya, dana abadi pendidikan yang dialokasikan dalam APBN-P 2010 sebesar Rp 2,4 triliun. Ide tersebut muncul pada saat Menteri Keuangan masih dijabat Sri Mulyani Indrawati. Anggaran Rp 2,4 triliun itu dialokasikan sebagai dana abadi pendidikan karena pada APBN-P 2010 ada tambahan anggaran belanja pendidikan nasional sebesar Rp 11,869 triliun.
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2010/12/30/04030976/tersedia.dana..abadi.beasiswa..rp.1.triliun
Kamis, 16 Desember 2010
Prof. Oei Ban Liang : Begawan Kimia dengan Bahasa Inggris Lebih Bagus dari Orang Inggris
Prof. Oei Ban Liang, Phd merupakan dosen senior Kimia Organik dari ITB Bandung. Meski bidang studinya Kimia Organik tetapi beliau adalah seorang generalis yang menguasai bidang-bidang lainnya seperti kimia nuklir dan bioteknologi. Bakatnya untuk menjadi manusia "serba bisa" itu sesuai dengan falsafah yang dianutnya yakni ”Kalau Mau Belajar Bisa.”
Oleh karena itu, Pak Oei --- begitu beliau biasa disapa --- tidak segan-segan untuk belajar apa saja. Ia sangat memahami konsep-konsep dasar ilmiah sehingga bila sesuatu hal yang perlu dipahami secara ilmiah ia langsung tahu.
Pak Oei menuntaskan S1 di ITB tahun 1957 dan tahun 1963 meraih gelar PhD di bidang Kimia Organik dari Untiversity of Kentucky, AS. Ia pernah mengajar Kimia di Universitas Kebangsaan Malaysia (1972-1974) dan menjadi dosen Kimia di Groningen University, Belanda selama 3 bulan pada 1975.
Selama menjadi dosen pria kelahiran Blitar, 31 Agustus 1930 ini telah membimbing mahasiswa S1,S2 dan S3. Tak kurang 40 doktor ITB merupakan hasil bimbingannya.
Pak Oei pula yang merintis PAU-Bioteknologi ITB dan menjabat sebagai direkturnya dari tahun 1985 hingga 1997. Juga menjadi Ketua Bridging Program Indonesia-Australia untuk Indonesia (1987-1996).
Pak Oei dikenal sebagai negosiator ulung dalam perjanjian-perjanjian dengan pihak luar negeri. Meski perawakannya kecil tetapi rasa percaya dirinya tinggi sekali. Ia juga seorang nasionalis sejati yang tak ingin negaranya diremehkan oleh negara lain. Ketika pihak Jepang menolak membayar pengiriman nikel yang diangkut 6 buah kapal maka Pak Oei diminta bantuannya oleh PT Aneka Tambang menjadi negosiator. Ternyata persoalan beres dan pihak Jepang bersedia membayar bahan nikel dan ongkos pengirimannya.
Selain itu, Pak Oei meski memiliki latar belakang kimia organik tetapi bisa membuat kontrak radio kimia dan ternyata berhasil. Dan itu merupakan kontrak BATAN Bandung yang pertama kali dengan IAEA. Selain itu, ketika menjadi Direktur PAU beliau juga menjalin banyak kerjasama dengan pihak luar negeri, sesuatu yang gagal dilanjutkan para penerusnya.
Semua itu karena Pak Oei menguasai dengan fasih bahasa Inggris, Jerman dan Belanda. Bahkan, khusus untuk bahasa Inggris, Prof. Allan Bull, pakar bioteknologi dari University of Canterbury, Inggris pernah berkata pada Dr. Wisnuprapto dari Teknik Lingkungan ITB :"His English is even better than the Englishman." Tentu hal ini bukan komentar basa-basi belaka karena disampaikan orang Inggris sendiri yang dikenal paling rewel dalam soal penggunaan bahasa.
Saat ini di usianya yang ke-77 beliau sudah tidak seprima di masa lalu setelah terkena stroke tahun 2002 dan menjalani dialisis seminggu tiga kali akibat gangguan ginjal. Tetapi semangat hidup beliau tetap tampak terpancar diwajahnya yang dengan setia didampingi istrinya Ibu Dr. Ari Roediretna.
Sumber: http://abgnet.blogspot.com/2007/09/prof-oei-ban-liang-begawan-kimia-dengan.html
Oei Ban Liang, Pabrik Doktor
Kompas Jabar, Rabu, 15 Desember 2010 | 09:10 WIB
Ketika orang meributkan paten temulawak di Amerika Serikat, Oei Ban Liang telah memperjuangkannya sejak belasan tahun lalu melalui jalan sunyi, berliku, tanpa publikasi. Pada 9 Juni 1992, paduan kandungan temulawak dan kunyit (Rheumakur) telah mengantarkannya memperoleh paten sebagai obat rematik dan antiinflamasi dari Amerika Serikat.
Penghargaan Phyto Medica Award dari Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medica merupakan bukti kerja kerasnya selama bertahun-tahun dalam mengembangkan ”obat bahan alam” dari kunyit dan temulawak. Jika hambatan utama pengembangan obat bahan alam di Indonesia adalah ”bukti klinis”, Oei Ban Liang telah berhasil menembusnya. Walau tidak berlatar belakang medis, dari sini terlihat kemampuannya dalam bekerja sama dengan berbagai pihak.
Sebagai seorang profesor ilmu kimia organik di ITB, Oei Ban Liang telah membuktikan bahwa kegiatan ilmiahnya tidak hanya terbatas di lingkungan laboratorium dan kampus, tetapi melampaui pagar kampus, bahkan melanglang jagat. Lahir dari keluarga pedagang suku Tionghoa di Blitar, anak kedua dari pasangan Oei Kian Sioe (ayah) dan Go Tong Hwa (ibu) ini seakan keluar dari pakemnya.
Bukan sebagai pebisnis, melainkan ilmuwan. Pilihan ini disadarinya sejak remaja. Pendudukan Jepang pada 1942 telah mengandaskan sekolah dasarnya. Namun, dasar anak cerdas, sekolah menengah pertamanya hanya diselesaikan dalam waktu satu tahun. Ia kemudian masuk AMS di Malang yang semakin mematangkan kemampuan otodidaknya.
Selanjutnya pada 1951 ia masuk Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia yang berlokasi di Bandung (sekarang ITB). Mata kuliah utamanya adalah Kimia dan Biologi. Pada tahun kedua dia menjadi asisten Laboratorium Fisika. Minatnya yang besar dalam penelitian membuatnya memilih menjadi ”ahli riset farmasi”.
Walau mempunyai kesempatan satu tahun lagi untuk menjadi apoteker, hal itu tidak dilakoninya. ”Saya pilih riset farmasi karena senang jadi peneliti”, ujarnya suatu ketika. Dengan penelitian, kita melatih otak untuk memecahkan masalah. ”Bukan hanya itu, dengan menguasai metodologi, kita akan bisa memecahkan masalah apa saja”, ujarnya kepada Kompas (29 Juni 2000).
Apa yang diungkapkannya bukan wacana ilmiah pemanis bibir. Suatu ketika sebuah BUMN memiliki masalah karena bijih timah yang dikirim ke Jepang ditolak dengan alasan tidak memenuhi syarat sebagaimana diperjanjikan. Akhirnya, Oei Ban Liang diminta memecahkan masalah ini.
Dari analisisnya, ternyata justru pihak Jepang yang keliru dalam metodologi sampling sehingga hasilnya dianggap tidak memadai. Dengan teliti dan telaten, semua masalah digali dan akhirnya Jepang harus menerima bijih timah dari BUMN tersebut.
Walau lulus sebagai doktor kimia organik, Oei tidak menyukai ”sekat” ilmu. Baginya pembagian ilmu kimia sebagai organik, anorganik, kimia-fisik, dan seterusnya hanyalah untuk memudahkan pemahaman. Dalam aplikasinya, semua harus dipadukan, sementara klasifikasi tersebut adalah pisau analisis untuk bedah masalah.
Seorang mantan bimbingannya menceritakan bagaimana Pak Oei ”geregetan” ketika sejawatnya tidak setuju dengan gagasannya tentang bioteknologi yang merupakan paduan biologi dan kimia. Ketika diserahi tanggung jawab memimpin Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi di ITB, yang dilakukannya adalah ”produksi” SDM.
Lebih radikal lagi, beliau juga melibatkan banyak sarjana dari luar ITB. Mereka diterima magang dulu, baru kemudian diberi beasiswa untuk studi S-2 di ITB atau bahkan sandwich. Perguruan tinggi mitra di luar negeri juga cukup ragam sehingga terjadi diversitas. Dalam waktu tidak lama terbentuklah massa kritis (critical mass) bioteknologi.
Oei Ban Liang dikenal sebagai ”pabrik” doktor. Tidak kurang dari 40 orang doktor berhasil lulus sebagai buah tangannya. Sebanyak 29 orang dibimbing langsung (sebagai promotor) dan 11 orang tidak langsung (sebagai ko-promotor). Belum lagi yang difasilitasi, baik dari ITB maupun perguruan tinggi lain, tidak terhitung banyaknya.
Lewat PAU Bioteknologi ITB saja telah dihasilkan tidak kurang dari 25 orang doktor. Apalagi jika ditambah dengan mereka yang pernah mendapat ”sentuhan” tangannya, baik di tingkat S-2 maupun S-1, yang kemudian termotivasi menjadi doktor. Selain itu, lahir dan berkembangnya Pascasarjana ITB dan PAU Bioteknologi ITB serta berkembangnya unit-unit bidang ilmu dan kelompok-kelompok kegiatan di Jurusan Kimia ITB juga adalah hasil rintisannya.
Bahkan, kontribusinya di Badan Tenaga Nuklir Nasional Bandung pun tidaklah kecil, dari berdirinya hingga dalam meningkatkan mutu pola pikir SDM.
Penyulut semangat
Oei Ban Liang yang lahir dari kalangan pedagang ini memilih takdirnya sebagai ilmuwan-pendidik. Salah satu titik kekuatannya adalah pada penguasaan konsep, metodologi riset, dan integritas peneliti (tekun, ulet, jujur, cermat, dan bertanggung jawab). Meski banyak anak didiknya yang gemetaran jika berhadapan dengannya, Oei memiliki kehangatan dan humanitas sehingga mampu menyulut semangat anak didiknya.
Di akhir hayatnya, gangguan ginjal telah menggerogotinya hingga harus cuci darah (hemodialisis) tiga kali seminggu. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat keilmuannya. Beberapa doktor bimbingannya tetap dapat menjalani sidang promosi ketika Oei sudah duduk di kursi roda. Ketika pendengaran dan retinanya mulai terganggu, seluruh anak bimbingnya sudah berhasil menyelesaikan studinya sehingga tanggung jawab sang guru Oei sudah selesai.
Daya ingat dan ketajaman pikirnya tidak pernah surut meski dalam keadaan sakit. Terhadap setiap yang hadir mengunjunginya, beliau tidak pernah lupa, bahkan membahas kegiatan-kegiatan yang sedang digeluti sang tamu. Selama bertahun-tahun menjalani terapi dan hemodialisis, ia tidak pernah lupa pada tahapan terapi yang harus dilakoninya dan banyaknya jenis obat yang harus diminum.
Bila ada obat yang tertinggal saat minum obat, langsung ditanyakannya kepada istri tercinta, Ari Roediretna, seperti yang terjadi pada sehari sebelum wafatnya.
Jumat, 19 November 2010, merupakan hari terakhir cuci darah bagi pria kelahiran Blitar yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-80 ini (31 Agustus 2010). Pada pukul 21.25 Tuhan menetapkan Oei harus kembali ke haribaan-Nya. Tugasnya dalam membina anak-anak bangsa telah selesai. Selamat jalan ”pabrik” doktor. Karya dan produkmu (SDM) senantiasa bermanfaat bagi bangsa dan negara, bahkan dunia.
Senin, 13 Desember 2010
Mengubah Air Tercemar Menjadi Air Bersih

Saat bencana terjadi, kelangkaan air bersih tentunya menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Pada kondisi ini banyak sumber air yang mengalami pencemaran. Lalu bagaimana caranya mengolah air bersih yang terkena pencemaran?
Dua pertiga dari berat tubuh manusia adalah air. Hal ini membuat manusia mampu bertahan hidup tanpa makanan selama tiga minggu, tetapi tidak mungkin hidup tanpa air selama lebih dari tiga hari.
Kondisi air yang dikategorikan aman dan sehat dikonsumsi adalah jernih, tak berwarna, tak berbau, tak berasa, bebas dari Penyakit yang mengandung mikroorgansime dan bebas zat kimia berbahaya.
Dengan adanya bencana alam tentunya membuat banyak sumber mata air bersih tercemar, baik karena bahaya biologis (seperti virus, bakteri atau cacing) maupun bahaya kimia (seperti deterjen, pelarut, sianida, logam berat, asam mineral dan organik, senyawa nitrogen, sulfida, amoniak dan senyawa organik beracun biosidal varietas besar).
Bahaya biologis dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti:
1. Diare
2. Infeksi cacing
3. Disentri (baik amuba dan bakteri)
4. Kolera
5. Masalah lambung
6. Penyakit tipus
7. Penyakit kuning
Sedangkan bahaya kimia dapat menyebabkan masalah kesehatan sebagai berikut:
1. Infeksi kulit
2. Gangguan usus
3. Gangguan hati, tulang dan sistem peredaran darah, kelahiran anomali
4. Anemia, kerusakan sumsum tulang, leukemia
5. Kerusakan sistem saraf pusat
6. Masalah karsinogenik
Bagaimana memurnikan air yang tercemar?
Dilansir dari Webhealthcentre, Jumat (5/11/2010), pemurnian air yang banyak dilakukan ada tiga tahap, yaitu penyimpanan, filtrasi dan klorinasi. Tapi sepertinya tiga tahap ini belum cukup untuk benar-benar memurnikan air yang tercemar.
Berikut beberapaa cara lain untuk mengurangi bahaya pencemaran air baik secara biologis maupun kimiawi:
1. Penyaringan dan perebusan
Meski tampak bersih, air yang akan diminum harus disaring dan direbus hingga mendidih setidaknya selama 5-10 menit. Hal ini dapat membunuh bakteri, spora, ova, kista dan mensterilkan air. Proses ini juga menghilangkan karbon dioksida dan pengendapan kalsium karbonat.
2. Disinfeksi kimia
Hal ini berguna untuk memurnikan air yang disimpan pada tempat seperti di genangan air, tangki atau air sumur.
3. Bubuk pemutih
Proses ini merupakan diklorinasi kapur. 2,3 gram bubuk pemutih diperlukan untuk mendisinfeksi 1 meter kubik (1.000 liter) air. Tapi air yang sangat tercemar dan keruh tidak bisa dimurnikan dengan metode ini.
Bubuk pemutih merupakan senyawa tidak stabil dengan bau yang menyengat. Ketika senyawa ini terkena udara, cahaya atau kelembaban, maka senyawa ini akan cepat kehilangan kadar klorin, sehingga menjadi tidak efektif.
4. Tablet klorin
Dipasaran, tablet klorin dijual dengan nama tablet halazone. Senyawa ini mungkin cukup mahal tetapi efektif untuk memurnikan air dengan skala kecil.
Tablet klorin 'smarter' telah diperkenalkan baru-baru ini. Tablet klorin ini 15-20 kali lebih kuat dari tablet halogen. Satu pil 0.5 gms, cukup untuk mendisinfeksi 20 liter air.
5. Filter
Ada beberapa jenis filter, antara lain filter keramik 'lilin' dan UV filter.
Bagian utama dari sebuah filter keramik 'lilin' ini adalah lilin yang terbuat dari porselin atau tanah infusorial. Permukaannya dilapisi dengan katalis perak sehingga bakteri yang masuk ke dalam akan dibunuh. Metode ini menghilangkan bakteri yang biasanya ditemukan dalam minum air, tetapi tidak efektif dengan virus yang bisa lolos saringan.
Alat UV filter umumnya terdiri dari prefilter, yaitu filter kotoran fisik. Kartrid karbon menghilangkan air dari kotoran organik yang berwarna, bau, bebas klorin dan lainnya. Sedangkan berkas sinar UV berfungsi untuk menghilangkan bakteri dan virus.
Sumber : http://www.detikhealth.com/read/2010/11/05/145527/1487210/766/mengolah-air-bersih-yang-tercemar?993306755