Hendaklah kamu semua mengusahakan ilmu pengetahuan itu sebelum dilenyapkan. Lenyapnya ilmu pengetahuan ialah dengan matinya orang-orang yang memberikan atau mengajarkannya. Seorang itu tidaklah dilahirkan langsung pandai, jadi ilmu pengetahuan itu pastilah harus dengan belajar. ( Ibnu Mas’ud r.a )

PHOTO TERBARU

PHOTO TERBARU
SimNas HKBAI 2013 di Makasar

Jumat, 25 Oktober 2013

DR. Anceu Murniati, M.Si

Selamat kepada dosen Jurusan Kimia Unjani " DR. Anceu Murniati, M.Si " telah sukses menyelesaikan studi S3 di Jurusan Kimia ITB, 10 Oktober 2013. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dan bermanfaat bagi sivitas akademika UNJANI 

Selasa, 06 Desember 2011

MIPA = Fakultas Miskin Prospek?

Ini juga hasil dari tugas esai yang dikasih Bu Nina tersayang. Ini buatan Tincul, si mahasiswa Departemen Kimia Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia angkatan 2010. Kata dia, esai ini ia jadikan sebagai ‘balasan dan jawaban’ dari notes seorang teman di facebook yang ngebahas soal MIPA dan Teknik. Kenapa gue post di sini? Sebagai bukti bahwa walaupun jiwa gue sastra, tapi gue tetep orang IPA dan gue bangga jadi orang IPA! :D

MIPA = Fakultas Miskin Prospek?

Ketika kita hendak memilih jurusan di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, kita akan menemukan satu fakultas yang berisi jurusan-jurusan atau departemen-departemen ilmu murni, seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan juga Farmasi. Di beberapa universitas, fakultas ini memiliki jurusan tambahan seperti Ilmu Komputer, Statistik, dan Instrumentasi. Fakultas tersebut adalah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Fakultas MIPA adalah fakultas yang terfokus pada konsep keilmuan secara murni dan mendalam di bidang pada masing-masing jurusan. Ini terlihat jelas dari kurikulum yang dimiliki oleh tiap jurusan. Misalnya pada jurusan Kimia, fokus konsepdiperdalam dengan adanya cabang-cabang seperti Kimia Analitik, Kimia Organik, Kimia Anorganik, dan Biokimia yang setiap cabangnya terdiri lagi dari berbagai spesifikasi. Begitu pula dengan jurusan yang lainnya.

Kefokusan paa ilmu dasar/murni yang dipelajari, membuat masyarakat berpikir bahwa MIPA adalah fakultas yang miskin dengan prospek dan prospek kerja. Sudah sangat berakar pola pikir dan anggapan bahwa lulusan MIPA hanya memiliki dua pilihan, ilmuwan atau guru. Ini disebabkan yang mereka pelajari hanyalah ilmu dasar dan kalaupun mereka bekerja di dunia perindustrian, mereka hanyalah konseptor penghuni laboratorium. Masalah penghasilan yang rendah pun turut menjadi bagian dari paradigma yang berkembang.

Padahal bila kita mengkaji lebih dalam lagi, kita akan menemukan fakta bahwa MIPA adalah ibu dari segala jurursan berbau sains. MIPA dapat pula diibaratkan sebagai akar dari sebuah pohon masa depan. Kalau kita sudah menjadi akar, bukankah kita akan punya banyak kesempatan untuk menumbuhkan jutaan cabang dalam mengembangkannya? Apalagi, di fakultas tersebut, para peserta didik akan diberikan penanaman pola pikir yang tidak diberikan di fakultas lain. Pola pikir yang berbeda dan berorientasi pada hal pasti akan menumbuhkan cabang-cabang yang kekar dan dinamis. Ketika sebuah pohon memiliki akar yang kuat, mau jadi pohon raksasa pun tidak masalah. Ini mengindikasikan bahwa visi menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pilar kemajuan bangsa akan tercapai dengan mudah bila para insan yang menghuni bangsa tersebut memiliki ilmu dasar yang kuat. Ini menunjukkan bahwa jurusan MIPA pun memiliki prospek yang luas.

Para lulusan MIPA pun memiliki banyak kesempatan untuk merangkul berbagai profesi. Industri perminyakan dan pertambangan yang dianggap sebagai lapangan kerja penuh untuk teknik, ternyata membutuhkan jasa ahli Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika dalam jumlah yang relatif banyak. Perkembangan teknologi yang dinamis membuat dunia perindustrian mencari berbagai cabang baru mengenai proses dan analisis metode produksi dari gabungan tenaga MIPA maupun teknik.

Negara Indonesia yang merupakan negara berkembang, membutuhkan pribadi-pribadi yang mandiri. Oleh karena itu, alangkah baiknya bila orientasi para mahasiswa bukanlah bekerja, tapi menciptakan lapangan kerja. Para lulusan MIPA yang memang memiliki bakat sebagai konseptor, dapat membuat dan menciptakan inovasi baru untuk proyek-proyek pembangunan di segala bidang/sektor, seperti sektor pangan, kesehatan, teknologi komputer, dan konversi energi. Tentu saja ini akan menyerap banyak tenaga kerja.

Kita pun dapat melihat salah satu contoh sosok sukses hasil didikan Fakultas MIPA, yaitu Profesor Yohanes Surya. Beliau berhasil membawa Indonesia menjadi juara dunia Olimpiade Fisika Internasional tahun 2006. Kini, beliau merangkap banyak profesi sebagai ilmuwan, motivator, dosen, penulis, dan pengembang industri.

MIPA memang hanya berorientasi pada ilmu dasar secara mendalam, tetapi kreativitas dan pola pikir yang diterapkan secara baik akan menjadikan insan-insan MIPA sebagai insan-insan produktif yang tidak bergantung penuh kepada institusi/pemerintah dalam berkarya. Ini adalah jalan terbaik untuk menciptakan propek yang baik pula bagi lulusan MIPA dan tidak menutup kemungkinan bagi lulusan dari jurusan lain.
Sumber: http://nizzarrahman.blogspot.com/2010/02/mipa-fakultas-miskin-prospek.html

Minggu, 04 Desember 2011

News: Names Proposed for Elements of Atomic Number 114 and 116

At the Closing Ceremony of the International Year of Chemistry in Brussels on December 1st

2011 the President of the International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC),

Professor Nicole J. Moreau, announced the proposed names for the elements with atomic numbers 114 and 116. On May 1st last a Joint IUPAC-IUPAP (International Union of Pure and Applied Physics) Working Party assigned the priorities for the discoveries of these

elements (see www.IUPAC.org for details) to collaborative work between scientists from the

Joint Institute for Nuclear Research in Dubna, Russia and from Lawrence Livermore National Laboratory, California, USA (hereinafter referred to as the Dubna-Livermore collaborations). Following the procedure laid down by IUPAC the scientists involved in the collaboration were invited to propose names for the elements. With Professor Yuri Oganessian as spokesperson the collaborators have proposed the name flerovium (symbol Fl) for element number 114 and the name livermorium (symbol Lv) for that with number 116. These proposed names have now also been examined and approved by the Inorganic Chemistry Division (Division II) of IUPAC which clears the way for IUPAC to issue a Provisional Recommendations document. The Provisional Recommendations will be made available in the very near future for Public Comment for five months and will also be sent to expert referees. At the end of the Public Comment period, the Inorganic Chemistry Division will review the comments made and either revise the Recommendations or recommend approval by the IUPAC Council. After approval by the IUPAC Council, or its designate, the Recommendation of the name and symbol will be published in the IUPAC Journal, Pure and

Applied Chemistry. Both of the names proposed lie within the long tradition of the choice of names for elements. The proposal for 114 will honour the Flerov Laboratory of Nuclear Reactions where the

superheavy elements are synthesised. Georgiy N. Flerov (1913 – 1990) is recognised as a renowned physicist, author of the discovery of the spontaneous fission of uranium (1940, with Konstantin A. Petrzhak), pioneer in heavy-ion physics; and founder in the Joint Institute for Nuclear Research the Laboratory of Nuclear Reactions (1957). It is an especially appropriate choice because since 1991 this laboratory, in which the element was synthesised, has borne his name. Professor G.N. Flerov is known also for his fundamental

work in various fields of physics that resulted in the discovery of new phenomena in

properties and interactions of the atomic nuclei; these have played a key role in the

establishment and development of many areas of further research. The name proposed for element number 116 honours the Lawrence Livermore National Laboratory (1952). A group of researchers of this Laboratory with the heavy element research group of the Flerov Laboratory of Nuclear Reactions took part in the work carried out in Dubna on the synthesis of superheavy elements including element 116. Over the years scientists at Livermore have been involved in many areas of nuclear science: the investigation of fission properties of the heaviest elements, including the discovery of bimodal fission, and the study of prompt gamma-rays emitted from fission fragments following fission, the investigation of isomers and isomeric levels in many nuclei and the investigation of the chemical properties of the heaviest elements. About IUPAC - IUPAC was formed in 1919 by chemists from industry and academia. For more than 90 years, the Union has succeeded in fostering worldwide communications in the chemical sciences and in uniting academic, industrial, and public-sector chemistry in a

common language. IUPAC is recognized as the world authority on chemical nomenclature, terminology, standardized methods for measurement, atomic weights, and more. In recent years, IUPAC has been proactive in establishing a wide range of conferences and projects

designed to promote and stimulate modern developments in chemistry. Another key focus of

the organization is on improving chemistry education and encouraging public understanding of chemistry. More information about IUPAC and its activities is available at www.iupac.org. For questions, contact Dr. Terry Renner, Executive Director, at secretariat@iupac.org. In

2011, IUPAC was co-sponsor with UNESCO of the International Year of Chemistry,

www.chemistry2011.org. IUPAC's next Congress and General Assembly will be held in Istanbul, 9 – 15 August, 2013.

Kamis, 10 November 2011

Enaknya, Ambil Jurusan Apa Ya?

KOMPAS.com - Pilihan mengenai konsentrasi studi yang diambil tergantung pada minat masing-masing individu. Minat akan sangat menentukan keberhasilan. Sebab, rahasia dibalik kebahagiaan adalah mampu mencintai apapun yang dilakukan dalam hidup. Jadi, apa yang harus dilakukan agar mampu menentukan pilihan studi yang sesuai minat dan kesenangan?

Yang pasti, temukan konsentrasi studi yang tepat, universitas yang tepat, dan Anda akan terinspirasi untuk meraih kesuksesan.

1. Apa yang benar-benar Anda minati?
Poinnya, bukan mengenai dalam hal apa Anda dapat menghasilkan sesuatu yang baik, tetapi apakah Anda senang melakukannya? Anda mungkin saja bagus dalam pelajaran Matematika, tetapi Anda memilih untuk menghabiskan akhir pekan dengan mengutak-atik komputer tua. Maka, spesifikkan minat Anda.

2. Mengapa?
Merupakan hal yang penting untuk berpikir mengapa Anda tertarik pada sebuah bidang studi. Apakah karena Anda menyenanginya atau bayangan akan masa depan yang cerah? Atau, jangan-jangan hanya karena memenuhi keinginan orangtua? Dengan mempertanyakannya kepada diri sendiri, Anda akan lebih dapat memutuskan mana yang akan Anda pilih.

3. Di mana Anda akan menempuh pendidikan?
Ada dua hal terkait hal ini. Di mana negara terbaik untuk mengambil spesialisasi studi tertentu? Mungkin negara yang kuat secara jaringan dan menawarkan kesempatan kerja setelah lulus dalam bidang industri terkait, atau kota yang memiliki akses terhadap sumber daya tertentu.

Atau, hal lain yang bisa jadi pertimbangan adalah, di belahan dunia mana yang menurut Anda akan membuat diri Anda senang berada di sana selama beberapa tahun? Ini adalah kesempatan untuk belajar bahasa atau menyerap budaya baru, membuat jalinan pertemanan, dan pengalaman yang berbeda dalam hidup. Jika Anda senang dalam menjalani keseharian, pasti Anda juga akan menyenangi kegiatan studi yang Anda lakoni di tempat tersebut.

4. Berpikir realistis

Ketika Anda telah menemukan apa yang menjadi impian Anda, yakinlah bahwa hal itu realistis untuk diwujudkan. Termasuk dalam pilihan studi. Misalnya, apakah bisa memenuhi biaya penerbangan, biaya kuliah, dan biaya hidup? Jika tidak, maka Anda bisa memikirkan hal lainnya, yaitu mencari beasiswa untuk mendapatkan sejumlah bantuan pembiayaan.

5. Lakukan penelitian
Anda perlu mempertajam seluruh pilihan secara nyata. Hal ini pasti membutuhkan sejumlah kajian atau penelitian. Misal mencari informasi secara online, membaca blog para pelajar yang bisa jadi berisi banyak informasi, dan jika memungkinkan cobalah berdiskusi, meminta testimoni kepada mereka yang belajar di negara atau kota yang dituju untuk mengetahuinya secara nyata.

6. Apa hal yang penting bagi Anda?

Selama melakukan observasi dengan menelaah dari berbagai sumber, Anda akan punya pandangan lain dalam menilai sebuah universitas. Buatlah daftar pendek terkait tiga poin utama yang Anda cari. Bisa saja dari sisi ranking sekolah atau prestise, fasilitas penelitian, pengalaman praktis, biaya perkuliahan, layanan pendukung siswa, keamanan, kehidupan sosial, kesempatan untuk berpetualang. Ada banyak variabel. Mana hal yang tepat bagi Anda?

7. Bagaimana cara Anda menyenangi belajar?
Beberapa orang lebih menyukai ujian akhir, ada pula yang menyukai tugas-tugas reguler karena membuat mereka sibuk sepanjang tahun. Ada yang menyukai teori, yang lainnya menyenangi praktik. Di sisi lain, ada yang senang bekerja secara kelompok, ada yang suka bekerja sendiri. Beberapa menyenangi menyampaikan tugas mereka secara verbal, yang lainnya lebih suka kalau menuliskan laporkan.

Nah, pilihlah mana yang cocok untuk Anda dan akan menambah kepercayaan diri untuk meraih kesuksesan. Atau, jika ingin tantangan, cobalah hal baru dalam belajar yang bisa membawamu keluar dari zona nyaman.

8. Lihat prospek karir ke depan

Belajar ke luar negeri bisa jadi sangat mahal. Jadi, berpikirlah bahwa ini akan menjadi investasi masa depan. Artinya, ini terkait dengan karir dan gaji Anda jika sudah terjun ke dunia kerja. Temukan pelajar internasional lulusan universitas tempat Anda belajar yang telah bekerja setelah menamatkan studinya atau carilah peluang bertemu dengan pelaku industri semasa Anda masih kuliah.

9. Fokus
Setiap bidang yang dipilih menawarkan hal yang berbeda. Ada baiknya, mengetahui secara spesifik keunggulan yang dimiliki.

10. Anda dapat mengubah pilihan
Ini adalah keputusan yang penting. Tetapi, jika Anda telah menemukannya dan menyadari bahwa Anda telah membuat kesalahan, belum terlambat untuk mengubahnya. Bicarakan kepada konselor di kampus, dan lihat jika ada pilihan yang lebih baik untuk Anda di sana. Jangan buang lima tahun hidup Anda untuk menjalani sesuatu yang tidak Anda senangi.

Ingatlah, memilih studi juga tentang minat dan hasrat Anda, dan kesuksesan akan menanti!