Hendaklah kamu semua mengusahakan ilmu pengetahuan itu sebelum dilenyapkan. Lenyapnya ilmu pengetahuan ialah dengan matinya orang-orang yang memberikan atau mengajarkannya. Seorang itu tidaklah dilahirkan langsung pandai, jadi ilmu pengetahuan itu pastilah harus dengan belajar. ( Ibnu Mas’ud r.a )

PHOTO TERBARU

PHOTO TERBARU
Studi Industri 2015

Senin, 26 Januari 2009

Kejujuran Diri Sendiri

Belajarlah jujur terhadap diri sendiri, meski orang lain tak melihatnya.
Kebersihan hati terjaga saat kita memelihara kejujuran dalam hidup.
Membiasakan kejujuran, membuat kita bertumbuh untuk hidup kini dan nanti.
Hati yang bersih membukakan pikiran jernih, melapangkan jalan,
menginspirasi kebaikan-kebaikan lain, mendewasakan iman dan menghasilkan
perbuatan terpuji. Sebagaimana air memantulkan wajah kita, demikian juga
hati menunjukkan siapa sebenarnya diri kita.

Senin, 19 Januari 2009

Lokakarya Pengembangan Kurikulum 19 Januari 2009




Lokakarya Pengembangan Kurikulum Jurusan Kimia FMIPA UNJANI 19 Januari 2009, dihadiri Sekretaris Kopertis Wil. IV Jawa Barat, Staf Dosen dari ITB, UNPAD, Pimpinan Fak. MIPA, Staf Dosen, Alumni dan Mahasiswa Kimia Unjani.

Saran Lokakarya Kurikulum Kimia 2009


Ass. Wr. Wb.

.Bagus ada beberapa masukan, menurut Bagus..

  1. Pengenalan mengenai Intrument Laboratorium baik Teori atau Prakteknya msh kurang..soalnya dlm bekerja (sbg Analis/Lab_Technician) yg terpenting adalah experience kita dlm mengoperasikan instrument Laboratorium..namun tdk lepas Kita jg hrs tahu prinsip dasar dr inst. tsb. Semakin banyak Kita bs mengoperasikan suatu inst. Lab..maka semakin besar chance Kita dlm mendapatkan pekerjaan.
  2. Dalam bekerja..ternyata "Kimia Dasar" sangat memegang peranan penting..karena hampir semua instrument yg Bagus pernah pegang prinsipnya berdasarkan alat2 konvensional dimana perhitungan & penetapan metodenya adalah Kimia Dasar..hanya kemasannya saja yg lbh Modern & Simple.
  3. "PengalamaN Bekerja"..inilah yg Kita tdk Punya..Kita tdk ada mata kuliah PKL (Praktek Kerja Lapangan)..begitu lulus kuliah sebetulnya tidak sedikit dr Kita yg bingung hrs mencari pekerjaan dimana. Tapi bl kita sdh pernah kita pst sedikit banyak sdh punya gambaran "Kemana Saya nanti setelah lulus"..disamping itu..dng PKL, kita jg akan memiliki koneksi dan referensi apabila kita mencari pekerjaan nanti.
  4. Mata kuliah khusus yg tujuannya menerangkan(menggambarkan) tugas seorang laborat (Chemist atau Analist) dlm pekerjaan seperti, apa & bagaimana tugas seorang QC di Perusahaan Makanan atau Textile.
  5. Kita jg mungkin perlu bekerja sama dng Instansi atau Lembaga yg menyelenggarakan pelatihan (training) bersertifikat, soalnya sertifikat merupakan point plus2 untuk melamar pekerjaan.

Mungkin itu saja masukan dr Bagus..semoga bisa bermanfaat.

Insya'allah liburan ini Bagus ke kampus.

Wassalam..

Best Regards,

Bagus Candra D.

Dari: Bagus Candra <bagus.candra@gmail.com>
Tanggal: 17 Januari 2009 06:52
Ke: lies.syarifudin@gmail.com

Minggu, 18 Januari 2009

Saran Lokakarya Kurikulum dari Alumni


Kepada Yth Ibu Yenni

Ketua Jurusan Kimia Unjani

Saya, mengucapkan terimakasih atas undangan Ibu Yenni sbg Ketua Jurusan Kimia Unjani untuk memberikan masukan, komentar atau apapun itu dalam penyusunan kurikulum mata kuliah pada jurusan Kimia Unjani. Saya juga merasa sangat menyesal tidak dapat menghadiri secara fisik dalam lokakarya penyusunan kurikulum tersebut yang mana dilaksanakan pada Tanggal 19 Januari 2009, Hari Senin. Setelah menyatakan kesanggupan saya (yang mana beberapa detik kemudian saya sadari bahwa pernyataan itu terlalu gegabah) untuk memberikan masukan dalam penyusunan kurikulum ini, karena saya sadar bahwa tidak memiliki kewenangan dan kapasitas. Jadi, kemudian saya berpikir untuk menuliskan hal dibawah ini, ketimbang memberi masukan langsung terhadap penyusunan kurikulum tersebut.

Khalifah Umar bin Khathab (atau mungkin Khalifah Ali bin Abu Thalib) pernah menyatakan “ Didiklah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu”. Sebuah pernyataan yang sangat dalam maknanya dan menurut pikiran saya sangat relevan dengan agenda lokakarya penyusunan kurikulum ini. Betapa tidak? Saat ini dunia sudah cepat berubah, didukung dengan teknologi informasi dan komunikasi yang muktahir, perubahan tidak lagi dalam satuan waktu bulan atau tahun, tetapi hari, jam bahkan menit. Kita harus mengakui dengan jujur bahwa kita tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi di masa datang, bahkan menurut Kahlil Gibran “…rumah masa depan yang tak bisa dikunjungi, walaupun hanya dalam mimpi…”. Nah, jika dan hanya jika kawan-kawan setuju dengan dasar pemikiran di atas, maka sebagai pendidik (mentor, guru, dosen, professor dan lainnya) sudah merupakan kewajiban untuk memberikan pendidikan atau bekal hidup yang tak lengkang oleh waktu, yang tak usang oleh zaman manapun.

Pemikiran di atas menekankan bahwa sistem pendidikan yang lebih mementingkan kemampuan akademik (aspek kognitif semata) dibanding afektif dan psikomotorik sudah usang, konservatif dan sebaiknya ditinggalkan. Membangun kepribadian yang positif dan jujur, perilaku yang baik, jiwa pantang menyerah dan budi pekerti yang luhur akan lebih menolong di masa depan dan dunia nyata ketimbang kemampuan akademik semata.

Proses pengajaran yang berorientasi hafal-menghafal tanpa pikir (rote memorization) perlu ditinggalkan karena menjadikan anak didik sibuk tidak tentu arah. Cara penilaian yang hanya berorientasi kepada pen and paper test yang bersifat standarisasi juga akan merusak kemampuan unik dari setiap anak didik. Saya berpikir, sebaiknya kita tidak merendahkan tujuan akhir pendidikan dengan mendapatkan angka IPK 4,00, ini terlalu dangkal dan menyedihkan.

Ketimbang mendorong dan memaksa anak didik untuk meraih prestasi tertinggi akademik, alangkah lebih elok dan berguna jika para pendidik mendorong dan memaksan anak didik ini untuk menjadi manusia-manusia yang mencintai dan selalu haus akan ilmu pengetahuan. Mau terus melakukan proses pembelajaran dalam hidupnya sepanjang masa. Meningkatkan proses dan berpikir kreatif anak didik serta mengembangkan kepercayaan diri yang kuat. Saya yakin dengan menekankan aspek-aspek ini dalam proses pengajaran, maka kesuksesan akan lebih mudah diraih bagi anak didik yang lulus dari Kimia Unjani.

Saya yakin semua sasaran dan proses pengajaran di atas dapat diterapkan oleh Jurusan Kimia Unjani, yaitu dengan membuat sistem kompetisi belajar dalam kelas yang sehat, digagas dari para pendidik tentunya, kemudian menerapkan disiplin yang tegas berdasarkan kesepakatan belajar antara pendidik dan anak didik, mendorong kerja keras anak didik dengan tugas-tugas atau proyek belajar yang relevan, berguna, tidak main-main (artinya hanya sebagai pengganti ketidakhadiran pendidik saja). Saya yakin sekali dengan konsep pendidikan semacam ini, Kimia Unjani akan menjadi Center of excellent bagi generasi muda yang ingin mempelajari kimia murni.

Akhir kata, saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan-kesalahan tulisan ini.

Salam dan sukses selalu

Taryono Darusman

Associate | Starling Resources

Jalan Bypass Ngurah Rai 121X

Sanur, 80227 - Bali, Indonesia

Email: taryono@starlingresources.com

T: +62-361-285-298

M: +62-812-2047-189

F: +62-361-284-178

Sabtu, 17 Januari 2009

Wahai Dosen, Berbicaralah dengan Bahasa Manusia!


Itulah teriakan para mahasiswa kepada dosennya, yang mungkin nggak pernah tersampaikan, dan saya yakin akan menjadi blunder kalau diungkapkan. Kecuali bagi para mahasiswa yIang memiliki kebebasan nilai IPK, kebebasan pola pikir, kebebasan penelitian, kebebasan finansial dan kebebasan ketergantungan serta ketaatan kecuali kepada satu yang Diatas. Mahasiswa pedjoeang yang tetap mau mengatakan kebenaran meskipun itu sangat sulit, pahit dan sakit. Tidak saya rekomendasikan, karena ungkapan semacam “Sensei no jugyo wa sonna naiyo deshitara, i-me-ru de okutta hou ga yoi dewanai deshouka?” (kalau isi kuliahnya kayak gitu, lebih baik kalau anda kirimkan ke saya lewat email saja prof) :), saya jamin akan membuat nilai kita jadi Fuka alias tidak lulus. Jangan dilakukan, cukup saya yang jadi korban harus mengambil mata kuliah yang sama selama tiga tahun berturut-turut, sampai akhirnya harus puas mendapatkan nilai Ka alias C dari sang Professor. Professorku yang akhirnya jadi sahabatku dan membimbing penelitianku, meskipun tetap tidak bisa menghilangkan cacat nilaiku :D

Mungkin itu salah satu tema diskusi ketika bertemu dengan teman-teman dosen di Puskom UNS Solo. Workshop, meskipun dengan undangan mendadak, tapi bak wangsit yang memberi tanda ke insting saya bahwa acara ini wajib saya datangi. Bukan hanya karena telepon mbak Jatu yang merdu yang meminta saya untuk sekalian mabid sambil ngisi liqo di UNS Solo hehehe, atau karena kesabaran mas Kurnia yang ngejar kereta saya dari Boyolali dengan motor bututnya, dan akhirnya berhasil menjemput saya jam dua pagi di Stasiun Balapan Solo, dan juga bukan karena sodoran kertas untuk tanda tangan dari mbak Asih :) Saya merasa perlu mengajak bapak ibu dosen untuk kembali memperhatikan mahasiswa kita.

Saya sebenarnya dalam keadaan kepenatan yang luar biasa pada waktu itu. Dua hari di Yogyakarta, hari Selasa (19 Agustus 2008) di STMIK Amikom untuk memberi materi tentang kesiapan kerja wisudawan dan Rabu (20 Agustus 2008) ke Universitas Atmajaya YogyakartaeLearning content. Hari ketiga, perjalanan darat selama 5 jam antara Jogja-Purwokerto meluluh lantakkan kekuatan saya, memporak porandakan kemampuan otak kiri saya, membenamkan senyum saya sampai ke titik nadir (halah! ;)). Mandi, sholat, sarungan, datangnya pesan perdjoeangan sang istri dan diskusi dengan para prajurit saya, garda depan Romi Satria Wahono’s Army alhamdulillah membangkitkan kekuatan saya. Revolusi belum selesai bung, perdjoeangan harus tetap dilakukan! :) Alhamdulillah setelah acara seminar grand opening prodi Teknik Informatika di Unsoed selesai, saya bergegas, meninggalkan kopi ginseng saya ke mas Adnan (thanks om), meloncat ke kereta Bima yang merayap senyap menuju kota Solo. mbantu pak Irya ngompori dosen-dosen untuk membuat

Kembali ke tema bahasan, saya mengajak bapak ibu dosen di UNS Solo untuk mencoba memikirkan kembali hakekat kita ngajar. Ngajar mahasiswa mengandung makna besar mendidik dan membina generasi muda kita. Dalam sejarah kebangkitan bangsa-bangsa, peran mahasiswa selalu tercatat, menjadi garda depan perubahan, kontribusinya sangat besar dan dominan. Mahasiswa adalah anasirut taghyir alias agen perubahan yang akan mewarnai masa depan dan membentuk karakter suatu bangsa. Bayangkan, pendidikan dan pembinaan orang-orang seperti itu diserahkan ke kita, para dosen dan pendidik. Beban berat yang harus kita pikul dan perlu perdjoeangan untuk melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Saya sempat melakukan studi kecil-kecilan, tentang harapan mahasiswa kepada dosennya. Dosen seperti apa yang sebenarnya mereka harapkan. Cukup menakjubkan, bahwa mahasiswa sangat jujur menilai kita. Sebenarnya posting ini adalah satu otokritik kepada diri saya sendiri, karena masih banyak karakter saya yang mungkin tidak diharapkan oleh mahasiswa. Kalau kita simpulkan ada empat karakteristik dosen yang diharapkan mahasiswa, dan jujur saja akan mereformasi dan mengantarkan kita menjadi sosok Dosen 2.0 :)

  1. Memiliki Kemampuan Verbal: Pintar jangan untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Bahasa gampangnya, permintaan mahasiswa kepada kita supaya belajar untuk mengajar, dan bukan hanya belajar untuk diri kita sendiri. Dosen diharapkan punya keseimbangan dalam pengetahuan taksit (know-how dan pengalaman lapangan) dan pengetahuan eksplisit (tertulis di textbook dengan berbagai teoritikalnya). Beri mahasiswa lebih banyak pengetahuan taksit karena know-how dan pengalaman lapangan yang kita miliki akan membuka wawasan mereka lebih luas. Memanjang-lebarkan penjelasan ke bahasan yang sudah jelas bin cetho tertulis di buku akan membuat kuliah kita jadi kering, garing dan membosankan. Kebiasaan kita dalam menggunakan bahasa sulit dalam menjelaskan suatu hal juga dikritik, ditambah dengan nafsu untuk memasukkan semua materi kuliah ke slide presentasi. Jangan buat kacamata kita semakin tebal, itu harapan para mahasiswa :) Mari kita gunakan bahasa manusia yang baik dan benar, dosen datang untuk memahamkan ke mahasiswa, bukan untuk menambah pusing mahasiswa yang sudah pusing dengan tugas mandiri, UTS dan UAS :)

  2. Memiliki Kemampuan Tulis: Kritikan paling tajam adalah kebiasaan kita menggunakan bahasa tulis ala paper yang dingin dan formal. Ngeblog adalah terapi yang sangat efektif mengatasi kelemahan kita yang tidak terbiasa menggunakan bahasa manusia dalam menulis. Posting artikel populer dalam bentuk journal pribadi yang banyak menggunakan ungkapan hati ala blog, akan mereformasi gaya tulisan kita. Menulislah dengan hati, karena kekuatan kata-kata kita akan memberikan motivasi tinggi kepada para mahasiswa dan mahasiswi. Jangan pernah nyontek tulisan orang lain karena itu akan blunder, membuat generalisasi negative image ke semua perilaku kita. Apalagi kalau menerapkan standard ganda dengan membuat tidak lulus mahasiswa yang melakukan copy-paste pada laporan tugas mandirinya. Kegiatan copy-paste mahasiswa kadang harus disikapi dengan bijak, mungkin mereka belum kita ajarkan tentang peraturan APAcopy-paste yang dilakukan dosen dan pendidik adalah penghianatan besar, membuat damage yang sangat luas ke lingkungan dan kegiatan hina yang tidak termaafkan. masalah pengambilan referensi dan pembuatan kutipan. Justru

  3. Open Mind dan Karakter Berbagi: Terbuka, jujur dan mau menerima kritik adalah sifat penting yang diharapkan mahasiswa ke dosennya. Karakter ringan tangan, senang berbagi ilmu dan project ;), mau bergaul dengan mahasiswa dan bahkan mendekati mereka dengan “bahasa mereka” adalah sifat yang menentramkan mahasiswa. Mahasiswa, selain sebagai murid, juga adalah teman, partner dan customer dari sang dosen. Janganlah dosen bersifat terlalu jaim, jayus apalagi jablai, karena itu akan membuat mahasiswa makin tidak simpatik. Kalau sudah nggak simpatik, sebaik apapun ilmu pengetahuan dan nasehat yang kita berikan akan hancur, musnah dan mahasiswa akan main hati (romi and the backbone) :) Mari kita menjaga hati mereka dan memberikan janji suci (romi and nuno) kepada para mahasiswa, “wahai para mahasiswaku, senyummu juga sedihmu, adalah hidupku“. Kalau perlu sebutkan dengan ikhlas, “akulah penjagamu, akulah pelindungmu, akulah pendampingmu, di setiap langkah-langkahmu (romi maulana, gigi)“. Dijamin mahasiswa kita pasti klepek-klepek dan mengatakan “everything i do, i do it for you sir …:D Kadang mengikuti behavior mereka dengan membuat account friendster dan facebook juga bukan pilihan buruk. Meminta mereka membuat laporan dalam bentuk tulisan lewat fitur blog di friendster kadang saya lakukan untuk men-terapi mahasiswa-mahasiswa saya yang sudah sulit dikendalikan lewat cara konvensional :)

  4. Memiliki Kemampuan Teknis: Cukup mengejutkan bahwa technical skill ternyata bukan hal utama yang diharapkan oleh mahasiswa ke dosennya. Sudah menjadi hal yang jamak bahwa kemampuan teknis khususnya yang berhubungan dengan pengetahuan eksplisit, sebenarnya bisa didapat dari berbagai literatur, buku dan ebook yang didapat dengan mudah oleh mahasiswa lewat internet. Dosen diharapkan oleh mahasiswa untuk jujur, kalau memang nggak ngerti ya bilang saja nggak ngerti, jangan malah muter-muter dan bikin pusing mahasiswa :) Perlu saya beri catatan khusus, pada jurusan computing, mahasiwa kita kadang punya technical skill yang lebih tinggi daripada kita, misalnya berhubungan dengan programming, troubleshoting, dan trend teknologi. Berkata tidak tahu, adalah suatu hal yang biasa dalam iklim pendidikan di kampus. Mengungkapkan akan mencoba mempelajari masalah itu dan dijadikan bahan diskusi pertemuan pekan depan, adalah jawaban dosen pedjoeang yang jujur dan bertanggungjawab. Sekali lagi, dosen nggak perlu keminter atau merasa lebih pinter daripada mahasiswanya untuk urusan skill teknis. Karakter dosen yang merasa menjadi newbie forever, selalu perlu belajar dan belajar lagi, selalu berdjoeang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, dan berusaha keras menyelesaikan masalah mahasiswanya, adalah karakter wajib, dan sifatnya tidak hanya wajib kifayah, tapi wajib ain :)

Untuk para dosen, sekali lagi, anak-anak muda, para pembaharu dan penentu masa depan bangsa ada di depan kita. Kitalah yang menentukan apakah mereka akan menjadi seorang pemimpin besar, mujaddid besar, dan ilmuwan besar, yang akan memperbaiki republik ini. Dan jangan lupa, bahwa bahwa kita jugalah yang akan membuat mereka menjadi penjahat dan koruptor besar yang akan memporak porandakan republik ini. Pilihan ada di tangan kita, para dosen.

Untuk para mahasiswa, beri kami kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri. Insya Allah kami akan berusaha menjadi pembimbing dan pendidik yang baik untuk anda sekalian. Kami tidak menginginkan apapun dari kalian semua, selain harapan supaya mahasiswa tetap komitmen untuk belajar dan berdjoeang keras, serta pantang menyerah. Hentikanlah sikap main-main, selalu jaga karakter serius dan profesional dalam kegiatan berhubungan dengan tugas belajar. Bersikaplah seperti layaknya seorang ksatria dan agen perubahan, yang akan mengantarkan republik ini ke jalan yang lebih baik.

Tetap dalam perdjoeangan!

by Romi Satria Wahono

(*) Artikel ini juga diterbitkan oleh detik.com dengan judul yang sama dan redaksional yang sedikit berbeda

Kamis, 15 Januari 2009

Lokakarya Pengembangan Kurikulum


Lokakarya Pengembangan Kurikulum Jurusan Kimia Unjani, dilaksanakan pada hari Senin tanggal 19 Januari 2009, bertempat di Gedung Kuliah Bersama (GKB) Lt. II D2-5. Kami mengharapkan kepada para Alumni dapat memberikan saran dan masukan melalui e-mail : kiunjani@gmail.com dan (022) 6631556.

Ujian Akhir Semester (UAS)



Mahasiswa sedang mengikuti Ujian Akhir Semester.

Jumat, 09 Januari 2009

Tugas UTS TI (Kls ekstensi)


Pasang minimal 5 (lima) photo anda berbagai ragam pada blog anda ukuran sedang/besar, paling lambat sesuai jadwal uts. Gambar atas adalah contoh tugas tsb.

Senin, 05 Januari 2009

Tugas Kuliah TI untuk UAS Mhs. Reguler



Buatlah salah satu dari artikel, puisi, cerpen, dll di blog anda. Bahwa anda mencintai Jurusan/Bidang Kimia. Contohnya seperti dibawah ini:

REAKSI KIMIA CINTAKU

unsur tulus dan kasih sayangmu
bereaksi dalam gelas hati dan tabung jiwaku
membentuk senyawa cinta dan rindu

semakin lama...
senyawa itu semakin mengendap dan mengerak di hatiku
tak bisa diurai meski dengan hidrolisis

perasanku telah sadah olehmu
hingga tak mampu bereaksi dengan sabun manapun
pemanasan,penukar resin,natrium karbonat
semua telah ku coba tapi tetap tak bisa

ataukah ku jatuh cinta?

mungkin senyawa itu berikatan tetrahedral
bukan penta hedral apalagi vander walls